Thursday, June 18, 2020

Belajar dan Pembelajaran Berbasis Informasi dan Komunikasi

Belajar dan Pembelajaran Berbasis Informasi dan Komunikasi

 

Junaidi

Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo

Email: junaidi.elang@gmail.com

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.    Latar Belakang

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan topik penting yang berkembang dalam berbagai kebijakan publik, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Integrasi TIK dalam kehidupan sehari-hari mengubah hubungan kita dengan informasi dan pengetahuan.

Peluang yang ditawarkan oleh penggunaan TIK dalam pendidikan begitu banyak jumlahnya, sehingga dapat mengarah pada pengalaman belajar yang lebih baik dan lebih menarik. Efek ini tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga transformasi model pendidikan, contohnya seperti model jarak jauh ke model e-learning atau blended learning yang menawarkan pilihan baru dalam penyampaian, serta peluang baru dalam layanan pelatihan guru dan dukungan lain. Kapasitas TIK untuk membangun jaringan tanpa batas merupakan kemungkinan pembelajaran inovatif yang setara di seluruh wilayah dan negara. Kemampuan siswa untuk memanfaatkan TIK sudah menjadi kebutuhan baru untuk sistem pendidikan yang efektif.

Banyak negara menghadapi tantangan yang signifikan dalam menguGah apa yang dijanjikan teknologi menjadi kenyataan untuk pembelajaran. Kebanyakan tantangan ini terkait dengan biaya atau masalah infrastruktur dan teknis, seperti kurangnya akses terhadap teknologi atau buruknya konektivitas. Tantangan lainnya adalah kurangnya konten yang relevan dalam bahasa yang dimengerti oleh pengguna dan terbatasnya akses untuk sumber daya pendidikan terbuka. Namun tantangan utama, termasuk pada sistem pendidikan yang paling canggih sekalipun, terletak pada kapasitas guru untuk menggunakan TIK secara efektif di dalam kelas. Dengan disadarinya kontribusi TIK dalam membangun hubungan baru antara sekolah dan masyarakat, serta menjembatani kesenjangan antara pendidikan formal, nonformal dan informal, maka para pembuat kebijakan dituntut untuk menyiapkan strategi untuk menghasilkan keterampilan dan kapasitas yang diperlukan dalam masyarakat berbasis pengetahuan.

2.    Rumusan Masalah

Permasalahan di sini penulis akan membahas tentang:

a.    Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Mengajar

b.    Jenis-Jenis Aktivitas Belajar

c.    Prinsip-Prinsip Belajar

d.   Tipe Gaya Belajar

e.    Teori Belajar Behaviouristik, Kognitif, dan konstruktivistik.

f.     Komponen Pembelajaran.

g.    Tipe-tipe Pembelajaran

h.    Pendekatan Pembelajaran

i.      Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

j.      Pembelajaran Berbasis Multimedia

k.    Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan.

3.    Tujuan Materi

Makalah ini ditulis dengan tujuan dan harapan agar :

a.    Mengetahui tentang Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Mengajar

b.    Mengetahui tentang Jenis-Jenis Aktivitas Belajar

c.    Mengetahui tentang Manfaat Prinsip-Prinsip Belajar

d.   Mengetahui tentang Tipe Gaya Belajar

e.    Mengetahui tentang Teori Belajar Behaviouristik, Kognitif, dan konstruktivistik.

f.     Mengetahui tentang Komponen Pembelajaran.

g.    Mengetahui tentang Tipe-tipe Pembelajaran

h.    Mengetahui tentang Pendekatan Pembelajaran

i.      Mengetahui tentang Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

j.      Mengetahui tentang Berbasis Multimedia

k.    Mengetahui tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.    Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Mengajar

a.      Belajar

Definisi Belajar menurut beberapa Ahli yaitu:[1]

1)      Menurut Ngalim (1986: 85) belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

2)      menurut Witherington dalam buku Educational Psychology mengemukakan “Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.

3)      Menurut Muhibin (1995:94) Perubahan dan kemampuan untuk merubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.

4)      Dalam buku strategi belajar terpadu (Hardini dan Puspitasari, 2011) belajar pada dasarnya berbicara tentang tingkah laku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman yang berasal dari lingkungan.

Dari beberapa definisi belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses berfikir, perubahan baik sikap, tingkah laku yang dapat membentuk suatu pengetahuan, kebiasaan kepandaian ataupun akan membentuk suatu pengalaman.

Adapun tahapan–tahapan dalam proses belajar menurut Jerome S. Bruner, yang dikutip oleh Muhibin (1995:112) proses pembelajaran siswa meliputi tiga fase diantaranya:

1)   Fase informasi (tahap penerimaan materi)

Fase informasi, diantara informasi yang diperoleh ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperluas dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.

2)   Fase Transformasi (tahap pengubahan materi)

Fase transformasi, informasi yang telah diperoleh dianalisis, diubah dan di transformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.

3)   Fase Evaluasi (tahap penilaian materi)

Fase evaluasi, seorang siswa akan menilai sendiri sampai sejauh manakah pengetahuan (informasi yang telah ditransformasikan tadi) dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain atau memecahkan masalah yang dihadapi.

menurut Muhibbin (1995:132) faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat di bedakan nmenjadi tiga macam, yaitu:

1)   Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)

Faktor internal (faktor dalam diri siswa) merupakan keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Pada faktor internal ini di bagi lagi kedalam dua aspek yaitu psikologis dan aspek fisiologis. Aspek psikologis merupakan aspek yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa yang meliputi intelegensi, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa. Sedangkan aspek fisiologis yaitu aspek yang dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.

2)   Faktor eksternal (faktor dari luar siswa)

Faktor Eksternal siswa, pada faktor eksternal siswa meliputi dua macam yaitu faktor dari lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial yang keduanya sama - sama mempunyai pengaruh yang besar terhadap diri siswa.

3)   Faktor pendekatan belajar

Faktor pendekatan belajar, pada pendekatan belajar ini meliputi strategi, metode dan segala hal yang berhuibungan dengan proses pembelajaran. Pendekatan belajar ini merupakan suatu cara atau strategi yang di gunakan siswa dalam menunjang efektifitas dan efisisensi proses pembelajaran tertentu.

b.      Pembelajaran

Definisi Pembelajaran Menurut beberapa Ahli : [2]

1)      Menurut Sudjana (2004: 28) pengertian Pembelajaran: “Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistematik dan sengaja untuk menciptakan agar        terjad kegiatan interaksi edukatif antara dua pihak, yaitu antara peserta didik (warga belajar) dan pendidik (sumber belajar) yang melakukan kegiatan membelajarkan”.

2)      Menurut      Sagala (2009:  61) Pembelajaran adalah membelajarkan “membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”.Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah.

3)      Menurut Hamalik (2006:    239) pembelajaran adalah “suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran”. Dari teori- teori yang dikemukakan banyak ahli tentang pembelajaran. Hamalik (2006: 239) mengemukakan 3 (tiga) rumusan yang dianggap lebih maju, yaitu:

a)       Pembelajaran    adalah  upaya mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.

b)       Pembelajaran    adalah  upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik.

c)       Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.

d)       Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 (Tilaar, 2006), menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan           kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

c.       Mengajar

Mengajar adalah suatu kemampuan yang harus di miliki oleh para pengajar atau guru, dan ilmu yang di pelajari yakni untuk menambah kemampuan dalam mengajar yang tentunya kemampuan tersebut digunakan untuk menghadapi anak didik yang mereka semua memiliki karakter yang beranekaragam, serta kemampuan dan keinginan yang pastinya berbeda-beda.

Definisi mengajar menurut beberapa Ahli ;[3]

1)        Usman (1994 : 3), Mengajar ialah membimbing siswa dalam aktivitas belajar & mengajar atau denagn kata lain bahwa mengajar adalah suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik yang mana bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar.

2)        Nasution ( 1982 : 8),  Mengajar merupakan segenap kegiatan kompleks yang dilakukan oleh guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan dengan sebaik-baiknya yang kemudian menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar dan mengajar.

3)        HR Ibn Abdil-Barr , Mengajar merupakan cara yang terbaik untuk bersedekah. Mengajarkan ilmu bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4)        George Picket & John J. Hanlon , Mengajar merupakan sebuah profesi dan juga keterampilan. Tidak semua orang bisa mendapatkan tantangan seperti itu karena berdasarkan kepada pelatihan, temperamen, dan juga pengalamannya.

5)        Roymond H. Sinamora, Mengajar merupakan bentuk prilaku yang kompleks. Prilaku kompleks dalam mengajar di artikan sebagai penggunaan secara integratif komponen yang ada pada tindakan mengajar untuk bisa menyampaikan pesan pengajaran.

6)        Nana Sudjana (1989:29), Mengajar adalah suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang berada di sekitar anak didik sehingga bisa menumbuhkan & mendorong siswa melakukan proses belajar dan mengajar.

7)        Gulo, Mengajar merupakan bentuk dari usaha yang bertujuan menciptakan suatu system lingkungan yang memungkinkan untuk terjadinya proses belajar dengan sebaik-baiknya.

8)        Hamalik (2001:44-53), Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, memberikan bimbingan belajar kepada murid, mewariskan kebudayaan kepada generasi muda, kegiatan yang bertujuan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, suatu proses membantu siswa dalam menghadapi kehidupan di lingkungan masyarakat sehari-hari.

9)        Highet, 1954, Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, memberikan bimbingan belajar kepada murid, mewariskan kebudayaan kepada generasi muda, kegiatan yang bertujuan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, suatu proses membantu siswa dalam menghadapi kehidupan di lingkungan masyarakat sehari-hari.

10)    Doni Koesoema A, Mengajar merupakan suatu panggilan dan tugas suci di dalam kehidupannya.

11)    Muhammad Ali (1992:12), Mengajar merupakan bentuk yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi peserta didik untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang sudah dirumuskan. Sasaran yang terakhir dari proses pembelajaran yakni ialah siswa belajar dengan upaya yang disengaja & penuh dengan rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan. Tujuan akan bisa tercapai dengan melalui proses pembelajaran, belajar terjadi dengan berbagai cara seperti guru langsung mengajar di dalam kelas atau bisa juga dengan menggunakan alat pembelajaran lain.

12)    Rohani (2004), Mengajar adalah sebuah proses membimbing pengalaman belajar. Pengalaman itu sendiri hanya bisa didapat apabila siswa dengan keaktifannya sendiri bereaksi terhadap lingkungannya. Misalnya seperti jika seorang siswa ingin memecahkan masalah maka ia perlu berpikir menurut langkah-langkah tertentu.

 

2.    Jenis-Jenis Aktivitas Belajar

Proses belajar mengajar merupakan proses interaksi antara guru dengan peserta didik, didalamnya banyak kegiatan atau aktivitas yang dilakukan. Contoh-contoh aktivitas dalam belajar misalnya membaca, melihat gambar, bertanya, memberikan tanggapan, menulis cerita, hingga merasakan dengan emosi masing-masing saat belajar juga merupakan sebuah aktivitas belajar. Dengan kata lain, aktivitas belajar merupakan segala sesuatu yang dilakukan dan mempengaruhi proses belajar itu sendiri.

Menurut Sardiman (2006: 100), aktivitas belajar meliputi aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas tersebut harus selalu berkait. Aktivitas belajar siswa sangat kompleks. Paul B. Diedrich (Sardiman, 2006: 101), menyatakan bahwa kegiatan siswa digolongkan sebagai berikut: [4]     

a.    Visual activities, diantaranya meliputi membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan

b.    Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, dan mengeluarkan pendapat.

c.    Listening activities, seperti misalnya mendengarkan percakapan, diskusi dan pidato.

d.   Writing activities, misalnya menulis cerita, karangan, laporan dan menyalin.
Motor activities, misalnya melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak
.

e.    Mental activities, misalnya menanggapi, mengingat, memecahkan soal, dan menganalisis.

f.     Emotional activities, misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Kombinasi dan penggunaan dari variasi jenis aktivitas belajar diatas akan sangat membantu baik guru maupun siswa dalam pembelajaran sehingga memudahkan dalam pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua jenis aktivitas belajar diatas harus ada dalam sebuah pembelajaran. Terdapat materi pelajaran yang tidak mampu dilakukan atau tidak sesuai dengan jenis akitvitas belajar tertentu.

 

3.    Prinsip-Prinsip Belajar

Berbagai teori tentang prinsip-prinsip pembelajaran yang telah dikemukakan para ahli yang memiliki persamaan dan perbedaan. Dari prinsip tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat digunakan sebagai dasar dalam proses pembelajaran, baik pendidik maupun peserta didik dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pembelajaran. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah: perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan serta perbedaan individu. Lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:[5]

a.    Perhatian dan motivasi

Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembelajaran, tanpa adanya perhatian maka pelajaran  yang  diterima dari pendidik adalah sia-sia. Bahkan dalam kajian teori  belajar terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada peserta didik apabila bahan pelajaran itu sesuai kebutuhannya, sehingga termotivasi untuk mempelajari secara serius.

Selain dari perhatian, motivasi juga mempunyai peranan yang urgen dalam kegiatan belajar. Gage dan Berliner mendefinisikan motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil. Jadi motivasi merupakan suatu tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Dengan demikian motivasi dapat dibandingkan dengan sebuah mesin dan kemudi pada mobil. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan mina t, peserta didik yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.

b.   Keaktifan

Belajar merupakan tindakan dan perilaku peserta didik yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subyek, yaitu dari peserta didik dan pendidik. Dari segi pesera didik, belajar dialami sebagai suatu proses, mereka mengalami proses mental dalam menghadapi bahan ajar. Dari segi pendidik proses pembelajaran tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal. Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah mahluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Dimiyati dan Mudjiono mengatakan bahwa ”belajar hanya dialami oleh peserta didik sendiri, peserta didik adalah penentu terjadinya atau tidak terjadi proses belajar.” Hal ini menunjukkan bahwa belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri.

c.    Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

Dalam diri peserta didik terdapat banyak kemungkinan dan potensi yang akan berkembang. Potensi yang dimiliki peserta didik berkembang ke arah tujuan yang baik dan optimal, jika diarahkan dan punya kesempatan untuk mengalaminya sendiri. Edgar Dale dalam Oemar Hamalik mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dale mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat yang paling kongkrit ke yang paling abstrak yang dikenal dengan kerucut pengalaman (cone of experience). Teori yang dikemukakan oleh Adgar Dale tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan langsung/pengalaman setiap peserta didik itu bertingkat- tingkat, mulai dari yang abstrak ke yang kongkrit.

Dalam proses pembelajaran membutuhkan keterlibatan langsung peserta didik. Namun demikian, keterlibatan langsung secara fisik tidak menjamin keaktifan belajar. Untuk dapat melibatkan peserta didik secara fisik, mental, emosional dan intelektual, maka pendidik hendaknya merancang pembelajarannya secara sistimatis, melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan karakteristik mata pelajaran.

d.   Pengulangan

Pengulangan dalam kaitannya dengan pembelajaran adalah suatu tindakan atau perbuatan berupa latihan berulangkali yang dilakukan peserta didik yang bertujuan untuk lebih memantapkan hasil pembelajarannya. Pemantapan diartikan sebagai usaha perbaikan dan sebagai usaha perluasan yang dilakukan melalui pengulangan– pengulangan.

Pembelajaran yang efektif dilakukan dengan berulang kali sehingga peserta didik menjadi mengerti. Bahan ajar bagaimanapun sulitnya yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik, jika mereka sering mengulangi bahan tersebut niscaya akan mudah dikuasai dan dihafalnya.

Ahmad Zayadi dan Abdul Majid mengatakan bahwa penguatan dorongan serta bimbingan pada beberapa peristiwa  pembelajaran peserta didik dapat meningkatkan kemampuan yang telah ada pada perilaku belajarnya. Hal ini mendorong kemudahan bagi peserta didik untuk melakukan pengulangan atau mempelajari materi pelajaran secara berulang kali. Adanya pengulangan terhadap materi pelajaran yang diberikan mempermudah penguasaan dan dapat meningkatkan kemampuannya.

Salah satu teori pembelajaran yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi asosiasi atau koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thorndike mengemukakan ada tiga prinsip atau hukum dalam belajar yaitu:

1)   Law of readines, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut.

2)   Law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan ulangan.

3)   Law of effect, yaitu belajar akan bersemangat apabila mengetahuai dan mendapatkan hasil yang baik. Belajar akan berhasil apabila peserta didik itu memiliki kesiapan untuk belajar, pelajaran itu selalu dilatihkan/diulangi serta peserta didik lebih bersemangat apabila mendapatkan hasil yang memuaskan.

Fungsi utama pengulangan adalah untuk memastikan peserta didik memahami persyaratan–persyaratan kemampuan untuk  suatu mata pelajaran, peserta didik akan belajar dengan mudah dan mengingat lebih lama jika mereka mengulangi apa yang mereka pahami.

e.    Tantangan

Apabila pendidik menginginkan peserta didiknya berkembang dan selalu berusaha mencapai tujuan, maka pendidik harus memberikan tantangan dalam kegiatan pembelajaran. Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan melalui bentuk kegiatan, bahan,  dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan tersebut. Kurt Lewin dengan teori Medan (Field Theory), mengemukakan bahwa peserta didik dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar peserta didik menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu mendapat hambatan yaitu mempelajari bahan ajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan ajar tersebut. Jika hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai maka peserta didik masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya.

Apabila     pendidik     menginginkan     peserta didiknya memunculkan motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pembelajaran haruslah menantang. Adanya tantangan yang dihadapi peserta didik dapat menjadikannya lebih bergairah untuk mengatasinya. Bahan ajar yang memerlukan pemecahan masalah dan analisis dapat membuat peserta didik tertantang untuk mempelajarinya

f.      Perbedaan Individual

Pada dasarnya tiap individu merupakan satu kesatuan, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang sama baik  dari aspek fisik maupun psikis. Dimiyati dan Mudiyono berpendapat bahwa “peserta didik merupakan individu yang unik, artinya tidak ada dua orang peserta didik yang sama persis, tiap peserta didik memiliki perbedaan satu sama lain. Perbedaan itu terdapat pula pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.”

Oemar Hamalik mengemukakan bahwa perbedaan individu manusia, dapat dilihat dari dua si si yakni horizontal dan vertikal. Perbedaan horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan,  emosi  dan sebagainya. Sedang perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah seperti bentuk badan, tinggi dan besarnya badan,  tenaga dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.

Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu perbedaan individu ini perlu menjadi perhatian pendidik dalam aktivitas pembelajaran dengan memperhatikan tipe-tipe belajar setiap individu. Para ahli didik mengklasifikasi tipe belajar peserta didik atas 4 macam yaitu:

1)   Tipe auditif, yaitu peserta didik yang mudah menerima pelajaran melalui pendengaran.

2)   Tipe visual, yaitu yang mudah menerima pelajaran melalui penglihatan.

3)   Tipe motorik, yaitu yang mudah menerima pelajaran melalui gerakan.

4)   Tipe campuran yaitu peserta didik yang mudah menerima pelajaran melalui penglihatan dan pendengaran.

Mengetahui perbedaan individu dalam belajar, memudahkan bagi pendidik dalam menentukan media yang akan digunakan, hal tersebut sangat urgen dalam pencapaian hasil pembelajaran yang optimal.

 

4.    Tipe Gaya Belajar

Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah, dan dalam situasi- situasi antar pribadi. Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.

Menurut Bobbi De Porter dalam Quantum Learning disebutkan bahwa gaya belajar ada 3 macam, yaitu visual, auditorial dan kinestetik.[6]

a.    Gaya Belajar Visual

Tipe gaya belajar ini adalah belajar dengan cara melihat. Anak dengan gaya belajar visual biasanya memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, di samping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic. Anak visual biasanya harus melihat dahulu buktinya    baru    bisa    mempercayainya.

Seorang yang bertipe visual, akan cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar. Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan alat penglihatannya. Sebaliknya merasa sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan dalam bentuk suara atau gerakan.

b.   Gaya Belajar Auditorial

Tipe gaya belajar ini adalah belajar dengan cara mendengar. Seorang pembelajar dengan kecenderungan auditoris dapat memfokuskan diri secara internal maupun eksternal.

Anak yang bertipe auditif, mudah mempelajari bahan-bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah), begitu guru menerangkan ia cepat menangkap bahan pelajaran, di samping itu kata dari teman (diskusi) atau suara radio/cassette ia mudah menangkapnya. Pelajaran yang disajikan dalam bentuk tulisan, perabaan, gerakan-gerakan yang ia mengalami kesulitan.

c.    Gaya Belajar Kinestetik

Tipe gaya belajar ini adalah belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Kecenderungan kinestetik dapat mewujudkan dirinya sendiri secara internal dan eksternal. Para pembelajar dengan kecenderungan kinestetik eksternal lebih menyukai sentuhan fisik. Mereka lebih suka belajar dengan cara mencoba sesuatu dengan tangan mereka dan kemudian membuat banyak sekali catatan (untuk menstimulasi   “tindakan”)  selama  proses  pembelajaran berlangsung.

Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik sangat suka bergerak, dan cara belajar mereka memang membutuhkan unsur gerak fisik. Mereka akan tersiksa jika dipaksa untuk duduk diam saat belajar.

 

5.    Teori Belajar Behaviouristik, Kognitif, dan Konstruktivistik

a.      Teori Belajar Behaviouristik[7]

Menurut Behaviorisme , belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara baru sebagai interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya .

Menurut teori ini yang terpenting adalah input (masukan) yang berupa stimulus dan out put (keluaran) yang berupa respon. stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswanya, misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respon adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Menurut teori behavioristik apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.

Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan, maka respon akan semakin kuat. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov dengan meneliti seekor anjing ia menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya juga dapat diterapkan pada manusia untuk belajar. Implikasi hasil eksperimen tersebut pada belajar manusia adalah:

1)       Belajar adalah membentuk asosiasi antara stimulus-respon secara selektif

2)       Proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat;

3)       Prinsip belajar pada dasarnya merupakan untaian stimulus-respon

4)       Menyangkal adanya kemampuan bawaan

5)       Adanya clasical conditionin

Menurut Gutrie, peningkatan hasil belajar secara berangsur-angsur yang dicapai oleh siswa bukanlah hasil dari pelbagai respons kompleks terhadap stimulus-stimulus sebagaimana yang diyakini oleh behavioris lainnya, melainkan karena kedekatan asosiasi antara stimulus dan respon.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam hal belajar teori Behaviorisme memiliki ciri-ciri bahwa:

1)    Belajar adalah perubahan perilaku

2)    Perilaku tersebut harus selalu tampak

3)    Perilaku harus dapat diukur

4)    Mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon

5)    Fungsi mind atau fikiran adalah untuk menciplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilah

6)    Pembiasaan dan latihan menjadi esensial dalam belajar

7)    Apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati Apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati

8)    Yang dapat diamati dan diukur hanyalah stimulus respons

9)    Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penamba-han pengetahuan dikategorikan sebagai kegagalan yang perlu dihukum

10) Mementingkan          penguatan atau reinforcement.

b.      Teori Belajar Kognitif[8]

Teori psikologi kognitif adalah merupakan bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberi konstribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi pendidikan. Meskipun teori kognitif dipertentangkan dengan teori behaviorisme, menurut ahli psikologi kognitif, aliran behaviorisme itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan yang berdimensi pada ranah cipta, seperti berpikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan. Selain itu aliran behaviorisme juga tidak mau tahu urusan ranah rasa.

Teori kognitif menurut beberapa ahli

1)      Teori Kognitif Gestalt

Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Rahyubi (2012: 77) menyatakan bahwa peletak dasar teori gestalt adalah Max Werheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Kaum Gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Menurut pandangan Gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Intinya, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain adalah sebagai berikut:

a)      Pengalaman tilikan (insight), bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku

b)      Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran

c)      Perilaku bertujuan (pusposive behavior), bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai

d)     Prinsip ruang hidup (life space), bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana seseorang berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik; dan

e)      Transfer dalam belajar, yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

2)      Teori Belajar Cognitive Field dari Lewin

Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar- kekuatan-kekuatan baik yang dari dalam diri individu (seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan) maupun dari luar diri individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut Lewin belajar berlangsung sebagai akibat dari 12 perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif tersebut adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting pada motivasi dari pada reward (Dalyono, 2012: 36).

3)      Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget

Piaget adalah seorang psikolog developmental dengan suatu teori komprehensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Karena, kemampuan belajar individu dipengaruhi oleh tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif melainkan kualitatif (Dalyono, 2012: 37).

Pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga aspek yaitu struktur, content, dan function. Anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur, dan konten intelektualnya berubah atau berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologi khusus yang menentukan kecakapan pikiran anak. Maka, Piaget mengartikan intelegensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus (Dalyono, 2012: 39).

Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

c.       Teori Belajar Konstruktivistik[9]

Konstruktivisme berasal dari filsafat yang digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh jean Piaget. Aliran filsafat Konstruktivisme berangkat dari pemikiran epistemology Giambabstista Vico yaitu “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya (Budiningsih, 2005: 23). Vico dalam Wina sanjaya menyebutkan, pengetahuan itu tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari subjek yang mengamati (Sanjaya, 2005: 118).

Hakikat pengetahuan dalam filsafat Konstruktif mempengaruhi konsep tentang belajar, bahwa belajar bukanlah sekedar menghafal, tetapi proses mmengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah semata hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakana. Lebih lanjut,    Piaget mengemukakan bahwa setiap anak sejak kecil sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman. Sebagai contoh; seorang anak bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Karena keseringannya bermain, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu, kucing berkaki empat, sedangkan kelinci berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka semakin sempurnalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses mengubah skema yang ada hingga terbentuk skema baru. Asimilasi maupun akomodasi terbentuk berkat pengalaman siswa (Sanjaya, 2005: 111)

Esensi teori konstruktivisme adalah bahwa siswa menemukan dan mentransformasikan suatu informasi yang kompleks ke situasi lain dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri, dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan semata.

Dapat dijelaskan bahwa dalam Konstructivisme terdapat beberapa ciri- ciri, yaitu:

1)       Siswa membangun pemahamannya sendiri dari hasil mereka belajar bukan karena disampaikan pada mereka.

2)       Pelajaran baru sangat tergantung dengan pelajaran sebelumnya.

3)       Belajar dapat ditingkatkan dengan interaksi social.

4)       Penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran.

5)       Siswa membangun interpretasi personal terhadap dunia luar berdasarkan pengalaman individual dan interaksi.

 

6.    Komponen Pembelajaran

Di dalam pembelajaran terdapat lima komponen, diantaranya: tujuan, materi atau bahan ajar, strategi pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.[10]

a)      Tujuan

Komponen tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai oleh kegiatan pembelajaran di dalamnya terdapat tujuan pendidikan dan tujuan pembangunan nasional. Tujuan pembelajaran tersebut bertingkat dimulai dari tujuan pembelajaran (umum dan khusus), berakumulasi, dan bersinergi untuk menuju tujuan yang lebih tinggi tingkatannya yakni membangun manusia (peserta didik) yang sesuai dengan dicita-citakan.

 

b)     Materi atau Bahan Ajar

Bahan (materi pembelajaran) pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum berupa mata pelajaran atau bidang studi denga topik atau sub topik dan rinciannya. Secara umum isi kurikulum itu dapat dipilah menjadi tiga unsur utama, yaitu logika (pengetahuan tentang benar-salah; berdasarkan prosedur keilmuan), etika (pengetahuan tentang baik-buruk) berupa muatan nilai moral, dan estetika (pengetahuan tentang indah-jelek) berupa muatan nilai seni.sedangkan bila memilahnya berdasarkan taksonomi Bloom dkk, bahan pembelajaran itu berupa kognitif (pengetahuan), afektif (sikap/nilai), dan psikomotor (keterampilan).

c)      Strategi Pembelajaran

Strategi dan metode pembelajaran merupakan salah saatu komponen didalam sistem pembelajaran, yang tidak dapat dipisahkan dari komponen lain didalam sistem tersebut. Dengan kata lain, strategi pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor lain meliputi:  tujuan, materi, siswa, fasilitas, waktu,  dan guru. Jenis strategi pembelajaran meliputi: ekspositori klasikal, heuristik, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran individual.

d)     Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah alat dan bahan yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil belajar. Menurut Rossi dan Breidle (1966:3) “media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya”. Jenis media pembelajaran meliputi: (1) media visual, (2) media audio, (3) media audio visual, (4) media penyaji, (5) media interaktif

e)      Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi/data untuk menentukan sejauhmana sise\wa telah mencapai tujuan pembelajaran (Gronlund: 1985). Evaluasi lebih bersifat komprehensif yang didalamnya meliputi pengukuran. Pengukuran lebih membatasi kepada gambaran yang bersifat kuantitatif (berupa angka) mengenai kemajuan belajar siswa (learning progress), sedangkan evaluasi lebih bersifat kualitatif yang mana pada hakikatnya merupakan suatu proses membuat keputusan tentang nilai suatu objek.  (Value judgement) tidak hanya didasarkan kepada hasil pengukuran (quantitative description), dapat pula didasarkan kepada hasil pengamatan (qualitative description) yang pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang suatu objek yang dinilai.

 

7.    Tipe-tipe Pembelajaran

Konsep model pembalajaran menurut Trianto (2010: 51), menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Sedangkan metode pembelajaran menurut Djamarah, SB. (2006: 46) ”suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan’. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunaanya bervariasi sesuai yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.

Dari konsep pembelajaran, model dan metode pembelajaran dapat didefinisikan bahwa model pembelajaran adalah prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran didalamnya terdapat strategi, teknik, metode, bahan, media dan alat penilaian pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara atau tahapan yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran.[11]

a)      Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran di mana guru mentransformasikan informasi atau keterampilan secara langsung kepada peserta didik, pembelajaran berorientasi pada tujuan dan distrukturkan oleh guru. (Depdiknas, 2010: 24). Menurut Killen dalam depdiknas (2010: 23) pembelajaran langsung atau Direct Instruction merujuk pada berbagai teknik pembelajaran ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara langsung, misalnya melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab) yang melibatkan seluruh kelas. Pendekatan dalam model pembelajaran ini berpusat pada guru, dalam hal ini guru menyampaikan isi materi pelajaran dalam format yang sangat terstruktur, mengarahkan kegiatan para peserta didik, dan mempertahankan fokus pencapaian akademik.

b)     Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Istilah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) diadopsi dari istilah Inggris Problem Based Instruction (PBI). Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Dewasa ini, model pembelajaran ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiri (Trianto, 2010:91).

Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan dalam Trianto, 2010:92).

Menurut Arends (dalam Trianto, 2010:92-94) pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,  mengembangkan kemandirian,  dan percaya diri.

c)      Model Pembelaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang mengungkapkan pengalaman dan kejadian yang dekat dengan siswa sebagai sarana untuk memahamkan persoalan matematika. (Depdiknas, 2010: 7). Anwar (2010) menyatakan bahwa PMRI adalah satu pendekatan pembelajaran matematika yang coba menggunakan pengalaman dan lingkungan siswa sebagai alat bantu mengajar primer.

Supinah (2008: 15-16) menyatakan bahwa PMRI adalah “suatu teori pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk matematika. Konsep matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar”.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan PMRI adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang dekat dengan kehidupan nyata siswa sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan daya nalar.

d)     Model Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa: 2006: 102). Menurut Sanjaya (2006: 109) mengemukakan bahwa CTL adalah suatu konsep pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata.

e)      Model Pembelajaran Index Card Match (Mencari Pasangan)

Menurut Zaini (2008: 67)) model pembelajaran Index Card Match (mencari pasangan) adalah model pembelajaran yang cukup menyenangkan, digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan catatan peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu sehingga peserta didik ketika masuk ruangan kelas sudah memiliki bekal pengetahuan. Dengan model pembelajaran Index Card Macth, peserta didik dapat belajar aktif dan berjiwa mandiri. Walaupun dilakukan dengan cara bermain, model pembelajaran Index Card Macth dapat merangsang peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar secara bertanggung jawab dan disiplin sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan prestasi belajar dapat meningkat.

f)       Model Pembelajaran Kooperatif

Istilah pembelajaran kooperatif dalam pengertian bahasa asing adalah cooperative learning. Menurut Saputra dan Rudyanto (2005: 49) Pada hakekatnya, metode pembelajaran kooperatif merupakan metode atau strategi pembelajaran gotong-royong yang konsepnya hampir tidak jauh berbeda dengan metode pembelajaran kelompok. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode pembelajaran kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.

8.    Pendekatan Pembelajaran

pembelajaran adalah mengorganisasikan siswa secara individu, kelompok, dan klaksikal.[12] Pendekatan adalah mendeskrepsikan hakikat apa yang akan dilakukan dalam memecahkan suatu masalah dalam segala aspek kehidupan masyarakat.[13]

Dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Ketika kegiatan pembelajaran itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekwensinya.

Ada beberapa pendekatan yang dapat dijadikan pedoman seorang guru dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu :

a.    Pendekatan Individu

Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.[14]

b.   Pendekatan Kelompok

Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa emosi yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas.[15]

c.    Pendekatan bervariasi

Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasa lahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam- macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pembelajaran dalam berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka kiranya untuk pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pembelajaran.[16]

d.   Pendekatan Edukatif

Pendekatan Edukatif Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial, dan norma agama.[17]

e.    Pendekatan Pengalaman

Betapa tingginya suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembangan jiwa anak, sehingga dijadikan pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Maka jadilah pendekatan pengalaman sebagai fase yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan.[18]

f.     Pendekatan Pembiasaan

Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa dibiasakan mengamalkan ajaran agamanya.[19]

g.    Pendekatan Emosional

Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pembelajaran.[20]

h.   Pendekatan Rasional

Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah.[21]

i.      Pendekatan Fungsional

Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak disekolah bukanlah hanya sekedar mengisi otak, tetapi diharapkan  berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.[22]

j.     Pendekatan Keagamaan

Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.[23]

 

 

9.    Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

Pembelajaran adalah proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik.[24]

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu program, untuk alat bantu, manipulasi dan menyampaikan informasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.[25]

Jadi Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu upaya memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasiuntuk mendukung proses pembelajaran.

 

10.    Pembelajaran Berbasis Multimedia

Adapun manfaat penggunaan media pembelajaran menurut Sudjana dan Rivai adalah Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Alasannya berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain:[26]

a.    Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga akan dapat menumbuhkan motivasi belajar

b.    Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga akan lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.

c.    Metode mengajar akan lebih bervariasi

d.   Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain – lain.

Dengan demikian, penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran diharapkan akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Multimedia tersebut diantaranya dengan memanfaatkan presentasi powerpoint, video, animasi flas, gambar, peta, grafik serta multiimedia lain dalam perangkat komputer.[27]

 

11.    Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan

Sebagaimana dikemukakan juga dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), khususnya pasal 3, tujuan akhir dari penyelenggaraan pendidikan (nasional) pada esensinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Di Indonesia, kualitas sumber daya manusia yang diharapkan adalah sebagaimana dideskripsikan pada pasal 3 UU Sisdiknas tersebut, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[28]

Banyak faktor yang berpengaruh atau mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang berkualitas dalam upaya mencapai tujuan pendidikan, salah satu di antaranya adalah penggunaan atau pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan dan pembelajaran (Miarso, 2004). Teknologi pembelajaran yang dewasa ini aplikasinya berupa pemanfaatan proses dan produk teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT) untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran, memiliki banyak manfaat atau keuntungan (Herman D. Surjono, 2010). Dengan memperhatikan keunggulan berbagai bentuk teknologi pembelajaran, dapat disusun strategi pemanfaatan yang tepat dan optimal untuk meningkatkan kualitas serta efektivitas dan efisiensi pembelajaran.[29]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

1.    KESIMPULAN

Pembelajaran adalah proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu program, untuk alat bantu, manipulasi dan menyampaikan informasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Jadi Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu upaya memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasiuntuk mendukung proses pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Azhariadi, Ina Desmaniar dan Zuliana Linggo Geni. 2019. pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (tik) di daerah terpencil, prosiding seminar nasional pendidikan program pascasarjana universitas pgri palembang 03 mei 2019

Mughnifar Ilham. 12 Pengertian Mengajar Menurut Para Ahli Terlengkap. Diakses https://materibelajar.co.id/pengertian-mengajar-menurut-para-ahli/, Pada Tanggal 24 Maret 2020

Syaiful Imran, Jenis-Jenis Aktivitas Dalam Belajar Siswa, diakses https://ilmu-pendidikan.net/pembelajaran/proses-pembelajaran/jenis-aktivitas-pembelajaran pada tanggal 29 Maret 2020 (2018)

Hasniyati Gani Ali. 2013. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Dan Aplikasinya Terhadap Pendidik dan Peserta Didik, Jurnal Al-Ta’dib Vol. 6 No. 1

Anisatul Mar’ah. 2015. Skripsi : “Gaya Belajar dan Faktor Pengaruhnya Terhadap Pencapaian Prestasi Belajar IPA Terpadu Siswa Kelas VIII MTs Sultan Fatah Gaji Guntur Demak Tahun Pelajaran 2015/2016”, Semarang : UIN Walisongo  

Zalyana. 2016. Perbandingan Konsep Belajar, Strategi Pembelajaran dan Peran Guru (Perspektif Behaviorisme dan Konstruktivisme), Jurnal Al-hikmah Vol. 13, No. 1

Delia Aselina, dkk. Komponen-Komponen Pembelajaran, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Muhammad Afandi, Evi Chamalah dan Oktarina Puspita Wardani. Model dan Metode Pembelajaran disekolah

H. Muhammad Basir. Pendekatan Pembelajaran,sulawesi Selatan : lampena intimedia

Sutaryat Trisnamansyah .2015.  Evaluasi Pembelajaran, Bandung : CV. Pustaka setia

Ismail Darimi. 2017. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Efektif,( Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi, Vol. 1, No. 2

Nana Sudjana dan Ahmad Riva’i. 2002.  Media Pengajaran . Bandung: Sinar Baru Algesindo

Mualimul Huda. 2016.  Pembelajaran Berbasis Mulitimedia dan Pembelajaran Konvensional. Jurnal Penelitian, Vol. 10, No. 1

Christina Ismaniati, Penggunaan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Peningkatan Kualitas  Pembelajaran

 



[1] Azhariadi, Ina Desmaniar dan Zuliana Linggo Geni, pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (tik) di daerah terpencil, prosiding seminar nasional pendidikan program pascasarjana universitas pgri palembang 03 mei 2019, hlm 80-81

 

[2] Ibid., hlm 81-82

[3] Mughnifar Ilham, 12 Pengertian Mengajar Menurut Para Ahli Terlengkap, Diakses https://materibelajar.co.id/pengertian-mengajar-menurut-para-ahli/, Pada Tanggal 24 Maret 2020

[4] Syaiful Imran, Jenis-Jenis Aktivitas Dalam Belajar Siswa, diakses https://ilmu-pendidikan.net/pembelajaran/proses-pembelajaran/jenis-aktivitas-pembelajaran pada tanggal 29 Maret 2020 (2018)

[5] Hasniyati Gani Ali, Prinsip-Prinsip Pembelajaran Dan Aplikasinya Terhadap Pendidik dan Peserta Didik, Jurnal Al-Ta’dib Vol. 6 No. 1 Januari-Juni 2013, hlm 33-39

[6] Anisatul Mar’ah, Skripsi : “Gaya Belajar dan Faktor Pengaruhnya Terhadap Pencapaian Prestasi Belajar IPA Terpadu Siswa Kelas VIII MTs Sultan Fatah Gaji Guntur Demak Tahun Pelajaran 2015/2016” (Semarang : UIN Walisongo ,2015) hlm. 13-20

[7] Zalyana, Perbandingan Konsep Belajar, Strategi Pembelajaran dan Peran Guru (Perspektif Behaviorisme dan Konstruktivisme), Jurnal Al-hikmah Vol. 13, No. 1, April 2016 ISSN 1412-5382, Hlm 74-75

[8] Rovi Pahliwandari, penerapan teori pembelajaran kognitif dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, Jurnal Pendidikan Olahraga, Vol. 5, No. 2, Desember 2016, Hlm. 157-161

[9] Zalyana, Op.Cit., hlm 76-77

[10] Delia Aselina, dkk.,Komponen-Komponen Pembelajaran, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, hlm. 3-5

[11] Muhammad Afandi, Evi Chamalah dan Oktarina Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajaran disekolah,

[12] H. Muhammad Basir. Pendekatan Pembelajaran,sulawesi Selatan : lampena intimedia, Hlm. 1

[13] Ibid, Hlm. 3

[14] Ibid, Hlm. 112

[15] Ibid, Hlm. 114

[16] Ibid, Hlm. 121

[17] Ibid, Hlm. 123

[18] Ibid, Hlm. 128

[19] Ibid, Hlm. 130-131

[20] Ibid, Hlm. 133

[21] Ibid, Hlm. 135

[22] Ibid,.

[23] Ibid, Hlm. 138

[24] Sutaryat Trisnamansyah, Evaluasi Pembelajaran,(Bandung : CV. Pustaka setia, maret 2015), Hlm. 98

[25] Ismail Darimi, Teknologi Informasi Dan Komunikasi Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Efektif,( Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2017) Hlm. 112

[26] Nana Sudjana dan Ahmad Riva’i, Media Pengajaran,  (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002), hlm. 2.

[27] Mualimul Huda, Pembelajaran Berbasis Mulitimedia dan Pembelajaran Konvensional, (Jurnal Penelitian, Vol. 10, No. 1, Februari 2016), Hlm. 130

[28] Christina Ismaniati, Penggunaan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Peningkatan Kualitas  Pembelajaran, Hlm 2

[29] Ibid., Hlm. 3

No comments:

Post a Comment