Belajar dan Pembelajaran Berbasis Informasi dan
Komunikasi
Junaidi
Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo
Email: junaidi.elang@gmail.com
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan topik penting yang berkembang
dalam berbagai kebijakan publik, tak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Integrasi TIK dalam kehidupan
sehari-hari mengubah hubungan kita dengan
informasi dan pengetahuan.
Peluang yang ditawarkan oleh penggunaan TIK
dalam pendidikan begitu banyak jumlahnya,
sehingga dapat mengarah pada pengalaman belajar yang lebih baik dan lebih
menarik. Efek ini tidak hanya
terbatas pada ruang kelas, tetapi juga
transformasi model pendidikan, contohnya seperti model jarak jauh ke model e-learning atau blended learning yang menawarkan pilihan
baru dalam penyampaian, serta peluang baru
dalam layanan pelatihan guru dan dukungan lain. Kapasitas TIK
untuk membangun jaringan tanpa batas
merupakan kemungkinan pembelajaran inovatif
yang setara di seluruh wilayah dan negara.
Kemampuan siswa untuk memanfaatkan TIK
sudah menjadi kebutuhan baru untuk sistem pendidikan
yang efektif.
Banyak negara menghadapi tantangan yang signifikan dalam menguGah apa yang
dijanjikan teknologi menjadi kenyataan
untuk pembelajaran. Kebanyakan tantangan ini terkait dengan biaya atau masalah infrastruktur dan
teknis, seperti kurangnya akses
terhadap teknologi atau
buruknya konektivitas. Tantangan lainnya adalah kurangnya konten yang relevan dalam
bahasa yang dimengerti oleh pengguna dan terbatasnya akses untuk sumber
daya pendidikan terbuka. Namun tantangan utama, termasuk pada sistem
pendidikan yang paling canggih
sekalipun, terletak pada kapasitas guru untuk menggunakan TIK secara efektif di dalam kelas. Dengan disadarinya
kontribusi TIK dalam membangun
hubungan baru antara
sekolah dan masyarakat, serta menjembatani kesenjangan antara pendidikan formal,
nonformal dan informal, maka para
pembuat kebijakan dituntut untuk
menyiapkan strategi untuk menghasilkan keterampilan dan kapasitas yang
diperlukan dalam masyarakat berbasis pengetahuan.
2.
Rumusan Masalah
Permasalahan di sini penulis
akan membahas tentang:
a. Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Mengajar
b.
Jenis-Jenis Aktivitas Belajar
c.
Prinsip-Prinsip Belajar
d.
Tipe Gaya Belajar
e.
Teori Belajar Behaviouristik,
Kognitif, dan konstruktivistik.
f.
Komponen Pembelajaran.
g.
Tipe-tipe Pembelajaran
h.
Pendekatan Pembelajaran
i.
Pembelajaran Berbasis Teknologi
Informasi dan Komunikasi.
j.
Pembelajaran Berbasis
Multimedia
k.
Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam Pendidikan.
3.
Tujuan Materi
Makalah ini ditulis dengan tujuan dan harapan agar :
a.
Mengetahui
tentang Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Mengajar
b.
Mengetahui
tentang Jenis-Jenis Aktivitas Belajar
c.
Mengetahui
tentang Manfaat Prinsip-Prinsip Belajar
d.
Mengetahui
tentang Tipe Gaya Belajar
e.
Mengetahui
tentang Teori Belajar Behaviouristik, Kognitif, dan konstruktivistik.
f.
Mengetahui
tentang Komponen Pembelajaran.
g.
Mengetahui
tentang Tipe-tipe Pembelajaran
h.
Mengetahui
tentang Pendekatan Pembelajaran
i.
Mengetahui
tentang Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi
j.
Mengetahui
tentang Berbasis Multimedia
k.
Mengetahui
tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Mengajar
a. Belajar
Definisi Belajar menurut
beberapa Ahli yaitu:[1]
1)
Menurut Ngalim (1986: 85) belajar adalah setiap perubahan yang relatif
menetap dan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman.
2)
menurut Witherington dalam buku Educational
Psychology mengemukakan “Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian
yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.
3)
Menurut Muhibin (1995:94) Perubahan dan kemampuan untuk merubah
merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.
4)
Dalam buku strategi belajar terpadu (Hardini dan Puspitasari, 2011)
belajar pada dasarnya berbicara tentang tingkah laku seseorang berubah sebagai
akibat pengalaman yang berasal dari lingkungan.
Dari beberapa definisi belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu
proses berfikir, perubahan baik sikap, tingkah laku yang dapat membentuk suatu
pengetahuan, kebiasaan kepandaian ataupun akan membentuk suatu pengalaman.
Adapun tahapan–tahapan dalam proses belajar
menurut Jerome S. Bruner, yang dikutip oleh Muhibin (1995:112) proses
pembelajaran siswa meliputi tiga fase diantaranya:
1)
Fase informasi (tahap penerimaan materi)
Fase informasi, diantara informasi yang diperoleh ada yang
sama sekali baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah,
memperluas dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
2)
Fase Transformasi (tahap pengubahan materi)
Fase transformasi, informasi yang telah diperoleh dianalisis,
diubah dan di transformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual
supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.
3)
Fase Evaluasi (tahap penilaian materi)
Fase evaluasi, seorang siswa akan menilai sendiri sampai
sejauh manakah pengetahuan (informasi yang telah ditransformasikan tadi) dapat
dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain atau memecahkan masalah yang
dihadapi.
menurut Muhibbin (1995:132) faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
di bedakan nmenjadi tiga macam, yaitu:
1)
Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)
Faktor internal (faktor dalam diri siswa) merupakan
keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Pada faktor internal ini di bagi lagi
kedalam dua aspek yaitu psikologis dan aspek fisiologis. Aspek psikologis
merupakan aspek yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan
pembelajaran siswa yang meliputi intelegensi, sikap siswa, bakat siswa, minat
siswa, motivasi siswa. Sedangkan aspek fisiologis yaitu aspek yang dapat
mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
2)
Faktor eksternal (faktor dari luar siswa)
Faktor Eksternal
siswa, pada
faktor eksternal siswa meliputi dua macam yaitu faktor dari lingkungan sosial
dan faktor lingkungan non sosial yang keduanya sama - sama mempunyai pengaruh yang besar terhadap
diri siswa.
3)
Faktor pendekatan belajar
Faktor pendekatan
belajar, pada
pendekatan belajar ini meliputi strategi, metode dan segala hal yang
berhuibungan dengan proses pembelajaran. Pendekatan belajar ini merupakan suatu cara
atau strategi yang di gunakan siswa dalam menunjang efektifitas dan efisisensi
proses pembelajaran tertentu.
b. Pembelajaran
Definisi Pembelajaran
Menurut beberapa Ahli : [2]
1)
Menurut Sudjana (2004: 28) pengertian Pembelajaran: “Pembelajaran dapat
diartikan sebagai setiap upaya yang sistematik dan sengaja untuk menciptakan
agar terjad kegiatan interaksi edukatif
antara dua pihak, yaitu antara peserta didik (warga belajar) dan pendidik
(sumber belajar) yang melakukan kegiatan membelajarkan”.
2)
Menurut Sagala (2009: 61) Pembelajaran adalah membelajarkan “membelajarkan
siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu
utama keberhasilan pendidikan”.Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah.
3)
Menurut Hamalik (2006: 239) pembelajaran
adalah “suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material
fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya
tujuan pembelajaran”. Dari teori- teori yang dikemukakan banyak ahli tentang
pembelajaran. Hamalik (2006: 239) mengemukakan 3 (tiga) rumusan yang dianggap
lebih maju, yaitu:
a)
Pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan
lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
b)
Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan
peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik.
c)
Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan
masyarakat sehari-hari.
d)
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 (Tilaar,
2006), menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses belajar yang dibangun oleh
guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan pengetahuan
baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
c. Mengajar
Mengajar adalah suatu kemampuan yang harus di miliki
oleh para pengajar atau guru, dan ilmu yang di pelajari yakni untuk menambah
kemampuan dalam mengajar yang tentunya kemampuan tersebut digunakan untuk
menghadapi anak didik yang mereka semua memiliki karakter yang beranekaragam,
serta kemampuan dan keinginan yang pastinya berbeda-beda.
Definisi mengajar menurut beberapa Ahli ;[3]
1)
Usman (1994 : 3), Mengajar ialah membimbing siswa dalam
aktivitas belajar & mengajar atau denagn kata lain bahwa mengajar adalah
suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik yang
mana bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar.
2)
Nasution ( 1982 : 8),
Mengajar
merupakan segenap kegiatan kompleks yang dilakukan oleh guru dalam
mengorganisasi atau mengatur lingkungan dengan sebaik-baiknya yang kemudian
menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar dan mengajar.
3)
HR Ibn Abdil-Barr , Mengajar merupakan cara yang terbaik untuk
bersedekah. Mengajarkan ilmu bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4)
George Picket &
John J. Hanlon , Mengajar merupakan
sebuah profesi dan juga keterampilan. Tidak semua orang bisa mendapatkan
tantangan seperti itu karena berdasarkan kepada pelatihan, temperamen, dan juga
pengalamannya.
5)
Roymond H. Sinamora, Mengajar merupakan bentuk prilaku yang kompleks.
Prilaku kompleks dalam mengajar di artikan sebagai penggunaan secara integratif
komponen yang ada pada tindakan mengajar untuk bisa menyampaikan pesan
pengajaran.
6)
Nana Sudjana (1989:29), Mengajar adalah suatu proses mengatur,
mengorganisasi lingkungan yang berada di sekitar anak didik sehingga bisa
menumbuhkan & mendorong siswa melakukan proses belajar dan mengajar.
7)
Gulo, Mengajar merupakan bentuk dari usaha yang
bertujuan menciptakan suatu system lingkungan yang memungkinkan untuk
terjadinya proses belajar dengan sebaik-baiknya.
8)
Hamalik (2001:44-53), Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada
anak didik, usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi
belajar bagi siswa, memberikan bimbingan belajar kepada murid, mewariskan
kebudayaan kepada generasi muda, kegiatan yang bertujuan mempersiapkan siswa untuk
menjadi warga negara yang baik, suatu proses membantu siswa dalam menghadapi
kehidupan di lingkungan masyarakat sehari-hari.
9)
Highet, 1954, Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, usaha
mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa,
memberikan bimbingan belajar kepada murid, mewariskan kebudayaan kepada
generasi muda, kegiatan yang bertujuan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga
negara yang baik, suatu proses membantu siswa dalam menghadapi kehidupan di
lingkungan masyarakat sehari-hari.
10)
Doni Koesoema A, Mengajar merupakan suatu panggilan dan tugas suci di dalam kehidupannya.
11)
Muhammad Ali (1992:12), Mengajar merupakan bentuk yang disengaja dalam rangka memberi
kemungkinan bagi peserta didik untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan
tujuan yang sudah dirumuskan. Sasaran yang terakhir dari proses pembelajaran
yakni ialah siswa belajar dengan upaya yang disengaja & penuh dengan rasa
tanggung jawab untuk mencapai tujuan. Tujuan akan bisa tercapai dengan melalui
proses pembelajaran, belajar terjadi dengan berbagai cara seperti guru langsung
mengajar di dalam kelas atau bisa juga dengan menggunakan alat pembelajaran
lain.
12)
Rohani (2004), Mengajar adalah sebuah proses membimbing pengalaman belajar. Pengalaman
itu sendiri hanya bisa didapat apabila siswa dengan keaktifannya sendiri
bereaksi terhadap lingkungannya. Misalnya seperti jika seorang siswa ingin
memecahkan masalah maka ia perlu berpikir menurut langkah-langkah tertentu.
2.
Jenis-Jenis Aktivitas Belajar
Proses belajar mengajar merupakan proses
interaksi antara guru dengan peserta didik, didalamnya banyak kegiatan atau
aktivitas yang dilakukan. Contoh-contoh aktivitas dalam belajar misalnya
membaca, melihat gambar, bertanya, memberikan tanggapan, menulis cerita, hingga
merasakan dengan emosi masing-masing saat belajar juga merupakan sebuah
aktivitas belajar. Dengan kata lain, aktivitas belajar merupakan segala sesuatu
yang dilakukan dan mempengaruhi proses belajar itu sendiri.
Menurut Sardiman (2006: 100), aktivitas
belajar meliputi aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan
belajar kedua aktivitas tersebut harus selalu berkait. Aktivitas belajar siswa
sangat kompleks. Paul B. Diedrich (Sardiman, 2006: 101), menyatakan bahwa
kegiatan siswa digolongkan sebagai berikut: [4]
a. Visual activities, diantaranya meliputi
membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan
b. Oral activities, seperti menyatakan,
merumuskan, bertanya, memberi saran, dan mengeluarkan pendapat.
c. Listening activities, seperti misalnya
mendengarkan percakapan, diskusi dan pidato.
d. Writing activities, misalnya menulis cerita,
karangan, laporan dan menyalin.
Motor activities, misalnya melakukan percobaan, membuat konstruksi, model
mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
e. Mental activities, misalnya menanggapi,
mengingat, memecahkan soal, dan menganalisis.
f. Emotional activities, misalnya, menaruh
minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Kombinasi dan penggunaan dari variasi jenis
aktivitas belajar diatas akan sangat membantu baik guru maupun siswa dalam
pembelajaran sehingga memudahkan dalam pencapaian kompetensi dan tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua
jenis aktivitas belajar diatas harus ada dalam sebuah pembelajaran. Terdapat
materi pelajaran yang tidak mampu dilakukan atau tidak sesuai dengan jenis
akitvitas belajar tertentu.
3.
Prinsip-Prinsip Belajar
Berbagai teori tentang prinsip-prinsip pembelajaran yang
telah dikemukakan para ahli yang memiliki persamaan dan perbedaan. Dari prinsip
tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam proses pembelajaran, baik pendidik maupun peserta didik dalam upaya meningkatkan
pelaksanaan pembelajaran. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah: perhatian dan
motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan serta
perbedaan individu. Lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:[5]
a. Perhatian dan motivasi
Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembelajaran, tanpa
adanya perhatian maka pelajaran
yang diterima dari pendidik
adalah sia-sia. Bahkan dalam kajian teori
belajar terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada peserta didik apabila bahan
pelajaran itu sesuai kebutuhannya,
sehingga termotivasi untuk mempelajari
secara serius.
Selain dari perhatian, motivasi juga
mempunyai peranan yang urgen dalam kegiatan belajar. Gage dan Berliner
mendefinisikan motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada
mobil. Jadi motivasi merupakan suatu tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Dengan demikian motivasi dapat dibandingkan dengan sebuah
mesin dan kemudi pada mobil. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan mina t,
peserta didik yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu
cenderung tertarik perhatiannya dan timbul motivasinya untuk mempelajari bidang
studi tersebut.
b. Keaktifan
Belajar merupakan tindakan dan perilaku peserta didik yang kompleks. Kompleksitas
belajar tersebut dapat dipandang dari dua subyek, yaitu dari peserta didik dan pendidik. Dari segi pesera didik,
belajar dialami sebagai suatu proses, mereka
mengalami proses mental dalam
menghadapi bahan ajar. Dari segi pendidik proses pembelajaran tersebut tampak
sebagai perilaku belajar tentang sesuatu
hal. Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah mahluk
yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan
aspirasinya sendiri. Dimiyati dan Mudjiono mengatakan bahwa ”belajar hanya
dialami oleh peserta didik sendiri, peserta didik adalah penentu terjadinya atau tidak
terjadi proses belajar.” Hal ini menunjukkan bahwa belajar tidak bisa
dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri.
c. Keterlibatan
Langsung/Berpengalaman
Dalam diri peserta didik terdapat banyak
kemungkinan dan potensi yang akan berkembang. Potensi yang dimiliki peserta
didik berkembang ke arah tujuan yang baik dan optimal,
jika diarahkan dan punya kesempatan untuk
mengalaminya sendiri. Edgar Dale dalam Oemar Hamalik mengemukakan bahwa
belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dale
mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat
yang paling kongkrit ke yang paling abstrak yang dikenal dengan kerucut
pengalaman (cone of experience).
Teori yang dikemukakan oleh Adgar Dale tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan langsung/pengalaman setiap peserta didik itu bertingkat- tingkat, mulai dari yang abstrak ke yang
kongkrit.
Dalam proses pembelajaran membutuhkan keterlibatan langsung peserta didik. Namun
demikian, keterlibatan langsung secara
fisik tidak menjamin keaktifan belajar. Untuk dapat melibatkan peserta didik secara fisik, mental,
emosional dan intelektual, maka
pendidik hendaknya merancang pembelajarannya secara sistimatis, melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik
dan karakteristik mata pelajaran.
d. Pengulangan
Pengulangan dalam kaitannya dengan
pembelajaran adalah suatu tindakan atau perbuatan berupa latihan berulangkali
yang dilakukan peserta didik yang bertujuan untuk lebih memantapkan hasil
pembelajarannya. Pemantapan diartikan sebagai usaha perbaikan dan sebagai usaha
perluasan yang dilakukan melalui pengulangan– pengulangan.
Pembelajaran yang efektif dilakukan dengan
berulang kali sehingga peserta didik menjadi mengerti. Bahan ajar bagaimanapun
sulitnya yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik, jika mereka sering
mengulangi bahan tersebut niscaya akan mudah dikuasai dan dihafalnya.
Ahmad Zayadi dan Abdul Majid mengatakan bahwa
penguatan dorongan serta bimbingan
pada beberapa peristiwa pembelajaran
peserta didik dapat meningkatkan kemampuan yang telah ada pada perilaku
belajarnya. Hal ini mendorong kemudahan bagi peserta didik untuk melakukan pengulangan atau mempelajari materi pelajaran secara berulang kali. Adanya pengulangan
terhadap materi pelajaran yang diberikan mempermudah penguasaan dan dapat
meningkatkan kemampuannya.
Salah satu teori pembelajaran yang menekankan
perlunya pengulangan adalah teori psikologi asosiasi atau koneksionisme dengan
tokohnya yang terkenal Thorndike mengemukakan ada tiga prinsip atau hukum dalam
belajar yaitu:
1)
Law of readines, belajar akan berhasil apabila individu
memiliki kesiapan untuk melakukan
perbuatan tersebut.
2)
Law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan ulangan.
3)
Law of effect, yaitu belajar akan bersemangat apabila mengetahuai
dan mendapatkan hasil yang baik. Belajar akan berhasil apabila peserta didik itu memiliki kesiapan untuk belajar, pelajaran itu selalu dilatihkan/diulangi serta peserta didik lebih bersemangat apabila
mendapatkan hasil yang memuaskan.
Fungsi utama
pengulangan adalah untuk memastikan
peserta didik memahami persyaratan–persyaratan kemampuan untuk suatu mata pelajaran, peserta didik akan belajar
dengan mudah dan mengingat lebih lama jika mereka mengulangi apa yang mereka
pahami.
e. Tantangan
Apabila pendidik menginginkan peserta
didiknya berkembang dan selalu berusaha mencapai tujuan, maka pendidik harus
memberikan tantangan dalam kegiatan
pembelajaran. Tantangan dalam kegiatan
pembelajaran dapat diwujudkan melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan tersebut. Kurt Lewin dengan teori Medan (Field Theory), mengemukakan bahwa peserta didik dalam situasi
belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi
belajar peserta didik menghadapi suatu tujuan
yang ingin dicapai, tetapi selalu
mendapat hambatan yaitu mempelajari
bahan ajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan ajar tersebut. Jika hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai maka peserta
didik masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya.
Apabila
pendidik menginginkan peserta didiknya memunculkan motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka
bahan pembelajaran haruslah menantang. Adanya tantangan yang dihadapi peserta didik dapat menjadikannya lebih bergairah untuk mengatasinya. Bahan ajar yang
memerlukan pemecahan masalah dan analisis dapat membuat peserta didik tertantang untuk mempelajarinya
f. Perbedaan Individual
Pada dasarnya tiap individu merupakan satu kesatuan,
yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang
sama baik dari aspek fisik maupun
psikis. Dimiyati dan Mudiyono
berpendapat bahwa “peserta didik merupakan individu yang unik, artinya tidak ada dua orang peserta didik
yang sama persis, tiap peserta didik
memiliki perbedaan satu sama lain.
Perbedaan itu terdapat pula pada karakteristik
psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.”
Oemar Hamalik mengemukakan bahwa perbedaan
individu manusia, dapat dilihat dari dua si si yakni horizontal dan vertikal. Perbedaan horizontal adalah
perbedaan individu dalam aspek mental, seperti
tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan,
emosi dan sebagainya. Sedang perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah seperti bentuk badan, tinggi dan besarnya badan,
tenaga dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut besar
pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada
cara dan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu perbedaan individu ini perlu menjadi perhatian pendidik dalam
aktivitas pembelajaran dengan
memperhatikan tipe-tipe belajar setiap individu. Para ahli didik
mengklasifikasi tipe belajar peserta didik atas 4 macam yaitu:
1)
Tipe auditif, yaitu peserta
didik yang mudah menerima pelajaran melalui pendengaran.
2)
Tipe visual, yaitu yang mudah menerima pelajaran melalui penglihatan.
3)
Tipe motorik, yaitu yang mudah
menerima pelajaran melalui gerakan.
4)
Tipe campuran yaitu peserta
didik yang mudah menerima pelajaran melalui penglihatan dan pendengaran.
Mengetahui perbedaan individu dalam belajar,
memudahkan bagi pendidik dalam menentukan media yang akan digunakan, hal
tersebut sangat urgen dalam pencapaian hasil pembelajaran yang optimal.
4. Tipe Gaya Belajar
Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan
kinerja dalam pekerjaan, di sekolah, dan dalam situasi- situasi antar pribadi.
Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan
kemudian mengatur serta mengolah informasi.
Menurut Bobbi De Porter dalam Quantum
Learning disebutkan bahwa gaya belajar ada 3 macam, yaitu visual, auditorial
dan kinestetik.[6]
a.
Gaya Belajar
Visual
Tipe gaya belajar ini adalah belajar dengan
cara melihat. Anak dengan gaya belajar visual biasanya memiliki kepekaan yang kuat
terhadap warna, di samping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah
artistic. Anak visual biasanya harus melihat dahulu buktinya baru
bisa mempercayainya.
Seorang yang bertipe visual, akan cepat
mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan alat
penglihatannya. Sebaliknya merasa sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan dalam
bentuk suara atau gerakan.
b.
Gaya Belajar
Auditorial
Tipe gaya belajar ini adalah belajar dengan
cara mendengar. Seorang pembelajar dengan kecenderungan auditoris dapat
memfokuskan diri secara internal maupun eksternal.
Anak yang bertipe auditif, mudah mempelajari
bahan-bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah), begitu guru
menerangkan ia cepat menangkap bahan pelajaran, di samping itu kata dari teman
(diskusi) atau suara radio/cassette ia mudah menangkapnya. Pelajaran yang
disajikan dalam bentuk tulisan, perabaan, gerakan-gerakan yang ia mengalami
kesulitan.
c.
Gaya Belajar
Kinestetik
Tipe gaya belajar ini adalah belajar dengan
cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Kecenderungan kinestetik dapat mewujudkan dirinya sendiri secara internal dan
eksternal. Para pembelajar dengan kecenderungan kinestetik eksternal lebih
menyukai sentuhan fisik. Mereka lebih suka belajar dengan cara mencoba sesuatu
dengan tangan mereka dan kemudian membuat banyak sekali catatan (untuk
menstimulasi “tindakan”) selama
proses pembelajaran berlangsung.
Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik
sangat suka bergerak, dan cara belajar mereka memang membutuhkan unsur gerak
fisik. Mereka akan tersiksa jika dipaksa untuk duduk diam saat belajar.
5. Teori Belajar
Behaviouristik, Kognitif, dan Konstruktivistik
a.
Teori Belajar Behaviouristik[7]
Menurut Behaviorisme , belajar adalah
perubahan tingkah laku akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara baru sebagai interaksi antara
stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat
menunjukkan perubahan tingkah lakunya .
Menurut teori ini yang terpenting adalah
input (masukan) yang berupa stimulus
dan out put (keluaran) yang berupa respon. stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada siswanya, misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman
kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respon
adalah reaksi atau tanggapan siswa
terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Menurut teori behavioristik apa
yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan
karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Faktor lain yang juga dianggap penting oleh
aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan, maka respon akan semakin kuat.
Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov dengan meneliti seekor
anjing ia menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya juga dapat diterapkan pada
manusia untuk belajar. Implikasi hasil eksperimen tersebut pada belajar manusia
adalah:
1)
Belajar adalah membentuk asosiasi antara stimulus-respon secara selektif
2)
Proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat;
3)
Prinsip belajar pada dasarnya merupakan untaian stimulus-respon
4)
Menyangkal adanya kemampuan bawaan
5)
Adanya clasical conditionin
Menurut Gutrie, peningkatan hasil belajar
secara berangsur-angsur yang dicapai oleh siswa bukanlah hasil dari pelbagai
respons kompleks terhadap stimulus-stimulus sebagaimana yang diyakini oleh
behavioris lainnya, melainkan karena kedekatan asosiasi antara stimulus dan
respon.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
dalam hal belajar teori Behaviorisme memiliki ciri-ciri bahwa:
1)
Belajar adalah perubahan perilaku
2)
Perilaku tersebut harus selalu tampak
3)
Perilaku harus dapat diukur
4)
Mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran
atau output yang berupa respon
5)
Fungsi mind atau fikiran adalah untuk menciplak struktur pengetahuan
yang sudah ada melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilah
6)
Pembiasaan dan latihan menjadi esensial dalam belajar
7)
Apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting
diperhatikan karena tidak dapat diamati Apa yang terjadi antara stimulus dan
respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati
8)
Yang dapat diamati dan diukur hanyalah stimulus respons
9)
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penamba-han pengetahuan
dikategorikan sebagai kegagalan yang perlu dihukum
10)
Mementingkan penguatan atau reinforcement.
b.
Teori Belajar Kognitif[8]
Teori psikologi kognitif adalah merupakan
bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberi konstribusi yang
sangat berarti dalam perkembangan psikologi pendidikan. Meskipun teori kognitif
dipertentangkan dengan teori behaviorisme, menurut ahli psikologi kognitif,
aliran behaviorisme itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab
tidak memperhatikan proses kejiwaan yang berdimensi pada ranah cipta, seperti
berpikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan. Selain itu aliran
behaviorisme juga tidak mau tahu urusan ranah rasa.
Teori kognitif menurut
beberapa ahli
1)
Teori Kognitif Gestalt
Teori kognitif mulai berkembang dengan
lahirnya teori belajar Gestalt. Rahyubi (2012: 77) menyatakan bahwa peletak
dasar teori gestalt adalah Max Werheimer (1880-1943) yang meneliti tentang
pengamatan dan problem solving. Kaum
Gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam
suatu keseluruhan. Menurut pandangan Gestaltis, semua kegiatan belajar
menggunakan pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan antara
bagian dan keseluruhan. Intinya, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa
yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar
seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. Aplikasi teori Gestalt dalam
proses pembelajaran antara lain adalah sebagai berikut:
a)
Pengalaman tilikan (insight),
bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku
b)
Pembelajaran yang bermakna (meaningful
learning), kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan
tilikan dalam proses pembelajaran
c)
Perilaku bertujuan (pusposive
behavior), bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi
akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang
ingin dicapai
d)
Prinsip ruang hidup (life space),
bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana seseorang
berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan
dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik; dan
e)
Transfer dalam belajar, yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam
situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi
apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu
persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan
masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu
peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
2)
Teori Belajar Cognitive Field dari Lewin
Lewin berpendapat bahwa tingkah laku
merupakan hasil interaksi antar- kekuatan-kekuatan baik yang dari dalam diri
individu (seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan) maupun dari luar diri
individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut Lewin belajar berlangsung
sebagai akibat dari 12 perubahan dalam struktur
kognitif. Perubahan struktur
kognitif tersebut adalah
hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur
medan kognisi itu sendiri, yang lainnya
dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang
lebih penting pada motivasi dari pada reward
(Dalyono, 2012: 36).
3)
Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget
Piaget adalah seorang psikolog developmental
dengan suatu teori komprehensif tentang perkembangan intelegensi atau proses
berpikir. Karena, kemampuan belajar individu dipengaruhi oleh tahap
perkembangan pribadi serta perubahan umur individu. Menurut Piaget, pertumbuhan
kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya
tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif melainkan
kualitatif (Dalyono, 2012: 37).
Pertumbuhan
intelektual anak mengandung tiga aspek yaitu
struktur, content, dan function. Anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur, dan
konten intelektualnya berubah atau berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu
rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologi khusus yang
menentukan kecakapan pikiran anak. Maka, Piaget mengartikan intelegensi adalah
sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus
(Dalyono, 2012: 39).
Peserta didik hendaknya diberi kesempatan
untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik,
yang ditunjang oleh interaksi dengan
teman sebaya dan dibantu
oleh pertanyaan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta
didik agar mau berinteraksi dengan
lingkungan secara aktif,
mencari dan menemukan berbagai hal dari
lingkungan.
c.
Teori Belajar Konstruktivistik[9]
Konstruktivisme berasal dari filsafat yang
digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh jean Piaget. Aliran filsafat Konstruktivisme berangkat dari pemikiran
epistemology Giambabstista Vico yaitu “Tuhan
adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari
ciptaannya (Budiningsih, 2005: 23).
Vico dalam Wina sanjaya menyebutkan, pengetahuan itu tidak lepas dari orang
(subjek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari subjek yang
mengamati (Sanjaya, 2005: 118).
Hakikat pengetahuan dalam filsafat
Konstruktif mempengaruhi konsep tentang belajar, bahwa belajar bukanlah sekedar
menghafal, tetapi proses mmengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman.
Pengetahuan bukanlah semata hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru,
akan tetapi hasil dari dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap
individu. Pengetahuan hasil dari pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan
yang bermakana. Lebih lanjut, Piaget mengemukakan bahwa setiap anak sejak kecil sudah memiliki
struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena
pengalaman. Sebagai contoh; seorang anak bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih.
Karena keseringannya bermain, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu,
kucing berkaki empat, sedangkan kelinci berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka
semakin sempurnalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema
dilakukan melalui proses mengubah skema yang ada hingga terbentuk skema baru.
Asimilasi maupun akomodasi terbentuk berkat pengalaman siswa (Sanjaya, 2005: 111)
Esensi teori konstruktivisme adalah bahwa
siswa menemukan dan mentransformasikan suatu informasi yang kompleks ke situasi
lain dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri, dengan
dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan
menerima pengetahuan semata.
Dapat dijelaskan bahwa dalam Konstructivisme
terdapat beberapa ciri- ciri, yaitu:
1)
Siswa membangun pemahamannya sendiri dari hasil mereka belajar bukan
karena disampaikan pada mereka.
2)
Pelajaran baru sangat tergantung dengan pelajaran sebelumnya.
3)
Belajar dapat ditingkatkan dengan interaksi social.
4)
Penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran.
5)
Siswa membangun interpretasi personal terhadap dunia luar berdasarkan
pengalaman individual dan interaksi.
6. Komponen Pembelajaran
Di dalam pembelajaran terdapat lima komponen,
diantaranya: tujuan, materi atau bahan ajar, strategi pembelajaran, media
pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.[10]
a) Tujuan
Komponen tujuan pembelajaran merupakan suatu
target yang ingin dicapai oleh kegiatan pembelajaran di dalamnya terdapat
tujuan pendidikan dan tujuan pembangunan nasional. Tujuan pembelajaran tersebut
bertingkat dimulai dari tujuan pembelajaran (umum dan khusus), berakumulasi,
dan bersinergi untuk menuju tujuan yang lebih tinggi tingkatannya yakni
membangun manusia (peserta didik) yang sesuai dengan dicita-citakan.
b) Materi atau Bahan Ajar
Bahan (materi pembelajaran) pada dasarnya
adalah “isi” dari kurikulum berupa mata pelajaran atau bidang studi denga topik atau sub topik dan rinciannya. Secara umum isi
kurikulum itu dapat dipilah menjadi tiga unsur utama, yaitu logika (pengetahuan
tentang benar-salah; berdasarkan prosedur keilmuan), etika (pengetahuan tentang
baik-buruk) berupa muatan nilai moral, dan estetika (pengetahuan tentang
indah-jelek) berupa muatan nilai seni.sedangkan bila memilahnya berdasarkan
taksonomi Bloom dkk, bahan pembelajaran itu berupa kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap/nilai), dan psikomotor (keterampilan).
c) Strategi Pembelajaran
Strategi dan metode pembelajaran merupakan
salah saatu komponen didalam sistem pembelajaran, yang tidak dapat dipisahkan
dari komponen lain didalam sistem tersebut. Dengan kata lain, strategi
pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor lain meliputi: tujuan, materi, siswa, fasilitas, waktu,
dan guru. Jenis strategi pembelajaran meliputi: ekspositori klasikal, heuristik, pembelajaran
kelompok, dan pembelajaran individual.
d) Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah alat dan bahan yang
dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil
belajar. Menurut Rossi dan Breidle (1966:3) “media pembelajaran adalah seluruh
alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan seperti radio,
televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya”. Jenis media pembelajaran
meliputi: (1) media visual, (2) media audio, (3) media audio visual, (4) media
penyaji, (5) media interaktif
e) Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses
yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi/data
untuk menentukan sejauhmana sise\wa telah mencapai tujuan pembelajaran
(Gronlund: 1985). Evaluasi lebih bersifat komprehensif yang didalamnya meliputi
pengukuran. Pengukuran lebih membatasi kepada gambaran yang bersifat kuantitatif
(berupa angka) mengenai kemajuan belajar siswa (learning progress), sedangkan evaluasi lebih bersifat kualitatif
yang mana pada hakikatnya merupakan suatu proses membuat keputusan tentang
nilai suatu objek. (Value judgement)
tidak hanya didasarkan kepada hasil pengukuran (quantitative description), dapat pula didasarkan kepada hasil
pengamatan (qualitative description)
yang pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang suatu objek yang
dinilai.
7. Tipe-tipe Pembelajaran
Konsep model pembalajaran menurut Trianto
(2010: 51), menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model
pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk
di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran,
lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Sedangkan metode pembelajaran menurut
Djamarah, SB. (2006: 46) ”suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan’. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh
guru agar penggunaanya bervariasi sesuai yang ingin dicapai setelah pengajaran
berakhir.
Dari konsep pembelajaran, model dan metode
pembelajaran dapat didefinisikan bahwa model pembelajaran adalah prosedur atau
pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan
pembelajaran didalamnya terdapat strategi, teknik, metode, bahan, media dan
alat penilaian pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara atau
tahapan yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan
mekanisme metode pembelajaran.[11]
a)
Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung dapat didefinisikan
sebagai model pembelajaran di mana guru mentransformasikan informasi atau
keterampilan secara langsung kepada peserta didik, pembelajaran berorientasi
pada tujuan dan distrukturkan oleh guru. (Depdiknas, 2010: 24). Menurut Killen
dalam depdiknas (2010: 23) pembelajaran langsung atau Direct Instruction merujuk pada berbagai teknik pembelajaran
ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara langsung,
misalnya melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab) yang melibatkan seluruh
kelas. Pendekatan dalam model pembelajaran ini berpusat pada guru, dalam hal
ini guru menyampaikan isi materi pelajaran dalam format yang sangat
terstruktur, mengarahkan kegiatan para peserta didik, dan mempertahankan fokus
pencapaian akademik.
b) Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Istilah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
diadopsi dari istilah Inggris Problem
Based Instruction (PBI). Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah
dikenal sejak zaman John Dewey. Dewasa ini, model pembelajaran ini mulai
diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri
dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang
dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan
inquiri (Trianto, 2010:91).
Pengajaran berdasarkan masalah merupakan
pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi.
Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam
benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan
sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun
kompleks (Ratumanan dalam Trianto, 2010:92).
Menurut Arends (dalam Trianto, 2010:92-94)
pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik
dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri
dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,
mengembangkan kemandirian, dan percaya diri.
c)
Model Pembelaran Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia (PMRI)
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang mengungkapkan pengalaman
dan kejadian yang dekat dengan siswa sebagai sarana untuk memahamkan persoalan
matematika. (Depdiknas, 2010: 7). Anwar (2010) menyatakan bahwa PMRI adalah
satu pendekatan pembelajaran matematika yang coba menggunakan pengalaman dan
lingkungan siswa sebagai alat bantu mengajar primer.
Supinah (2008: 15-16) menyatakan bahwa PMRI
adalah “suatu teori pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk
matematika. Konsep matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk
memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan
bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan
daya nalar”.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
Pendekatan PMRI adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang dekat
dengan kehidupan nyata siswa sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan
daya nalar.
d) Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau
CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara
materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa
mampu menghubungkan dan menerapkan
kompetensi dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa: 2006: 102). Menurut Sanjaya
(2006: 109) mengemukakan bahwa CTL adalah suatu konsep pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan
materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata.
e)
Model Pembelajaran Index Card Match (Mencari Pasangan)
Menurut Zaini (2008: 67)) model pembelajaran Index Card Match (mencari pasangan)
adalah model pembelajaran yang cukup menyenangkan, digunakan untuk mengulang
materi yang telah diberikan sebelumnya. Materi baru pun tetap bisa diajarkan
dengan catatan peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan
terlebih dahulu sehingga peserta didik ketika masuk ruangan kelas sudah
memiliki bekal pengetahuan. Dengan model pembelajaran Index Card Macth, peserta didik dapat belajar aktif dan berjiwa
mandiri. Walaupun dilakukan dengan cara bermain, model pembelajaran Index Card Macth dapat merangsang
peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar secara bertanggung jawab dan
disiplin sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan prestasi belajar dapat
meningkat.
f)
Model Pembelajaran Kooperatif
Istilah pembelajaran kooperatif dalam
pengertian bahasa asing adalah cooperative
learning. Menurut Saputra dan Rudyanto (2005: 49) Pada hakekatnya, metode
pembelajaran kooperatif merupakan metode atau strategi pembelajaran
gotong-royong yang konsepnya hampir tidak jauh berbeda dengan metode
pembelajaran kelompok. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode
pembelajaran kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan
dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan
asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif
dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.
8. Pendekatan Pembelajaran
pembelajaran adalah mengorganisasikan siswa
secara individu, kelompok, dan klaksikal.[12]
Pendekatan adalah
mendeskrepsikan hakikat apa yang akan dilakukan dalam memecahkan suatu masalah
dalam segala aspek kehidupan masyarakat.[13]
Dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung
telah terjadi interaksi yang bertujuan. Ketika kegiatan pembelajaran itu
berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau
memahami anak didiknya dengan segala konsekwensinya.
Ada beberapa pendekatan yang dapat dijadikan
pedoman seorang guru dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah
dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu :
a.
Pendekatan Individu
Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan
individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan
pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.[14]
b.
Pendekatan Kelompok
Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat
ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka
dibina untuk mengendalikan rasa emosi yang ada dalam diri mereka masing-masing,
sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas.[15]
c.
Pendekatan bervariasi
Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi
bahwa permasa lahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-
macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pembelajaran dalam berbagai motif,
sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka kiranya
untuk pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk
kepentingan pembelajaran.[16]
d.
Pendekatan Edukatif
Pendekatan Edukatif Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang
guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik
agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial, dan norma agama.[17]
e.
Pendekatan Pengalaman
Betapa tingginya suatu pengalaman, maka
disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembangan jiwa anak, sehingga
dijadikan pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Maka jadilah pendekatan pengalaman
sebagai fase yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan.[18]
f.
Pendekatan Pembiasaan
Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah
yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Karena
dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa dibiasakan
mengamalkan ajaran agamanya.[19]
g.
Pendekatan Emosional
Emosi mempunyai peranan yang penting dalam
pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang
berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam
pendidikan dan pembelajaran.[20]
h.
Pendekatan Rasional
Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan
pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah.[21]
i.
Pendekatan Fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak
disekolah bukanlah hanya sekedar mengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai
individu maupun sebagai makhluk sosial.[22]
j.
Pendekatan Keagamaan
Pendekatan agama dapat membantu guru untuk
memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya
nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami,
dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.[23]
9. Pembelajaran Berbasis
Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pembelajaran
adalah proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik.[24]
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu program,
untuk alat bantu, manipulasi dan menyampaikan informasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi adalah segala
hal
yang
berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.[25]
Jadi Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah
suatu upaya memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasiuntuk mendukung
proses pembelajaran.
10. Pembelajaran Berbasis
Multimedia
Adapun manfaat penggunaan media pembelajaran
menurut Sudjana dan Rivai adalah Media pengajaran dapat
mempertinggi proses belajar
siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang
dicapainya. Alasannya berkenaan dengan manfaat
media pengajaran dalam proses belajar
siswa antara lain:[26]
a.
Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga akan dapat menumbuhkan motivasi belajar
b.
Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga akan lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih
baik.
c.
Metode mengajar akan
lebih bervariasi
d.
Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab
tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktifitas lain seperti
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain – lain.
Dengan demikian, penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran diharapkan akan
mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Multimedia tersebut diantaranya dengan memanfaatkan presentasi powerpoint, video, animasi flas, gambar, peta, grafik
serta multiimedia lain dalam perangkat komputer.[27]
11. Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam Pendidikan
Sebagaimana dikemukakan juga dalam
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU
Sisdiknas), khususnya pasal 3, tujuan akhir dari penyelenggaraan pendidikan
(nasional) pada esensinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia
(SDM). Di Indonesia, kualitas sumber daya manusia yang diharapkan adalah
sebagaimana dideskripsikan pada pasal 3 UU Sisdiknas tersebut, yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.[28]
Banyak faktor yang berpengaruh atau mendukung
terwujudnya proses pembelajaran yang berkualitas dalam upaya mencapai tujuan
pendidikan, salah satu di antaranya adalah penggunaan atau pemanfaatan
teknologi dalam proses pendidikan dan pembelajaran (Miarso, 2004). Teknologi
pembelajaran yang dewasa ini aplikasinya berupa pemanfaatan proses dan produk
teknologi informasi dan komunikasi (information
and communication technology/ICT) untuk memecahkan masalah-masalah
pendidikan dan pembelajaran, memiliki banyak manfaat atau keuntungan (Herman D.
Surjono, 2010). Dengan memperhatikan keunggulan berbagai bentuk teknologi
pembelajaran, dapat disusun strategi pemanfaatan yang tepat dan optimal untuk
meningkatkan kualitas serta efektivitas dan efisiensi pembelajaran.[29]
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Pembelajaran
adalah proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu program,
untuk alat bantu, manipulasi dan menyampaikan informasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi adalah segala
hal
yang
berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
Jadi Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah
suatu upaya memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasiuntuk mendukung
proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Azhariadi, Ina Desmaniar dan Zuliana Linggo Geni. 2019. pembelajaran
berbasis teknologi informasi dan komunikasi (tik) di daerah terpencil, prosiding seminar
nasional pendidikan program
pascasarjana universitas pgri palembang 03 mei 2019
Mughnifar Ilham. 12 Pengertian Mengajar Menurut Para Ahli
Terlengkap. Diakses https://materibelajar.co.id/pengertian-mengajar-menurut-para-ahli/,
Pada Tanggal 24 Maret 2020
Syaiful Imran, Jenis-Jenis Aktivitas Dalam Belajar Siswa, diakses https://ilmu-pendidikan.net/pembelajaran/proses-pembelajaran/jenis-aktivitas-pembelajaran
pada tanggal 29 Maret 2020 (2018)
Hasniyati Gani Ali. 2013. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Dan Aplikasinya Terhadap Pendidik dan Peserta Didik, Jurnal
Al-Ta’dib Vol.
6 No. 1
Anisatul Mar’ah. 2015. Skripsi : “Gaya Belajar dan Faktor
Pengaruhnya Terhadap Pencapaian Prestasi Belajar IPA Terpadu Siswa Kelas VIII
MTs Sultan Fatah Gaji Guntur Demak Tahun Pelajaran 2015/2016”, Semarang : UIN Walisongo
Zalyana. 2016.
Perbandingan
Konsep Belajar, Strategi Pembelajaran dan Peran Guru (Perspektif Behaviorisme
dan Konstruktivisme), Jurnal
Al-hikmah Vol. 13, No. 1
Delia Aselina, dkk. Komponen-Komponen
Pembelajaran, Fakultas Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial
Muhammad Afandi, Evi Chamalah dan Oktarina Puspita
Wardani. Model dan Metode Pembelajaran
disekolah
H. Muhammad Basir. Pendekatan Pembelajaran,sulawesi Selatan
: lampena intimedia
Sutaryat Trisnamansyah .2015. Evaluasi
Pembelajaran, Bandung : CV. Pustaka setia
Ismail Darimi. 2017. Teknologi
Informasi Dan Komunikasi Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Efektif,( Jurnal Pendidikan Teknologi
Informasi, Vol. 1, No. 2
Nana
Sudjana dan Ahmad
Riva’i. 2002. Media Pengajaran . Bandung: Sinar Baru
Algesindo
Mualimul Huda. 2016. Pembelajaran
Berbasis Mulitimedia dan Pembelajaran Konvensional. Jurnal
Penelitian, Vol. 10, No. 1
Christina
Ismaniati, Penggunaan Teknologi Informasi
Dan Komunikasi Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran
[1] Azhariadi, Ina
Desmaniar dan
Zuliana Linggo Geni, pembelajaran
berbasis teknologi informasi dan komunikasi (tik) di daerah terpencil, prosiding seminar
nasional pendidikan program
pascasarjana universitas pgri palembang 03 mei 2019, hlm 80-81
[2] Ibid., hlm 81-82
[3] Mughnifar Ilham, 12 Pengertian Mengajar Menurut Para Ahli Terlengkap, Diakses https://materibelajar.co.id/pengertian-mengajar-menurut-para-ahli/, Pada Tanggal 24 Maret 2020
[4] Syaiful Imran, Jenis-Jenis Aktivitas Dalam Belajar Siswa, diakses https://ilmu-pendidikan.net/pembelajaran/proses-pembelajaran/jenis-aktivitas-pembelajaran pada tanggal 29 Maret 2020 (2018)
[5] Hasniyati Gani Ali, Prinsip-Prinsip Pembelajaran Dan Aplikasinya Terhadap Pendidik dan Peserta Didik, Jurnal Al-Ta’dib Vol. 6 No. 1 Januari-Juni 2013, hlm 33-39
[6] Anisatul Mar’ah, Skripsi : “Gaya Belajar dan Faktor Pengaruhnya Terhadap Pencapaian Prestasi Belajar IPA Terpadu Siswa Kelas VIII MTs Sultan Fatah Gaji Guntur Demak Tahun Pelajaran 2015/2016” (Semarang : UIN Walisongo ,2015) hlm. 13-20
[7] Zalyana, Perbandingan Konsep Belajar, Strategi Pembelajaran dan Peran Guru (Perspektif Behaviorisme dan Konstruktivisme), Jurnal Al-hikmah Vol. 13, No. 1, April 2016 ISSN 1412-5382, Hlm 74-75
[8] Rovi Pahliwandari, penerapan teori pembelajaran kognitif dalam pembelajaran pendidikan
jasmani dan kesehatan, Jurnal
Pendidikan Olahraga, Vol. 5, No. 2, Desember 2016, Hlm. 157-161
[9] Zalyana, Op.Cit., hlm 76-77
[10] Delia Aselina, dkk.,Komponen-Komponen Pembelajaran, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, hlm. 3-5
[11] Muhammad Afandi, Evi Chamalah dan Oktarina Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajaran disekolah,
[12] H.
Muhammad Basir. Pendekatan
Pembelajaran,sulawesi Selatan : lampena intimedia, Hlm. 1
[13] Ibid, Hlm. 3
[14] Ibid, Hlm. 112
[15] Ibid, Hlm. 114
[16] Ibid, Hlm. 121
[17] Ibid, Hlm. 123
[18] Ibid, Hlm. 128
[19] Ibid, Hlm. 130-131
[20] Ibid, Hlm. 133
[21] Ibid, Hlm. 135
[22] Ibid,.
[23] Ibid, Hlm. 138
[24] Sutaryat Trisnamansyah, Evaluasi
Pembelajaran,(Bandung : CV. Pustaka setia, maret 2015), Hlm. 98
[25] Ismail
Darimi, Teknologi Informasi Dan Komunikasi Sebagai Media
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Efektif,( Jurnal
Pendidikan Teknologi Informasi, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2017) Hlm. 112
[26] Nana Sudjana dan Ahmad Riva’i, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002), hlm. 2.
[27] Mualimul Huda, Pembelajaran Berbasis
Mulitimedia dan Pembelajaran Konvensional, (Jurnal
Penelitian, Vol. 10, No. 1, Februari 2016), Hlm. 130
[28] Christina Ismaniati, Penggunaan Teknologi Informasi Dan
Komunikasi Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran,
Hlm 2
[29] Ibid., Hlm. 3
No comments:
Post a Comment