Blended Learning Dalam Pembelajaran
Junaidi
Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo
22 Maret 2020
Email: junaidi.elang@gmail.com
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Blended learning merupakan konsep yang menawarkan kombinasi pembelajaran online dan
pembelajaran tatap muka (tradisional). Model ini menjadi alternatif untuk
pembelajaran daring yang banyak digunakan di negara-negara maju. Model ini
dikembangkan untuk menjawab tantangan bahwa pembelajaran daring penuh (e-learning) ternyata tidak dapat
diterapkan pada banyak instansi pendidikan. Hal ini dikarenakan ada aspek
pembelajaran yang tidak bisa disampaikan hanya dengan pembelajaran online.
Selain itu, model elearning menuntur siswa mandiri dan memiliki motivasi
belajar yang tinggi.[1]
Blended learning memungkinkan
guru / dosen untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif kepada mahasiswa.
Mereka dapat menggabungkan model pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran
online. Blended learning dapat
didefinisikan sebagai model pembelajaran yang menggabungkan model pembelajaran
tradisional (tatap muka) dengan model pembelajaran online (elearning). Model pembelajaran ini merupakan perkembangan dari
model pembelajaran e-learning. Pada
model pembelajaran e-learning proses
pembelajaran hanya bergantung pada pembelajaran online. Walaupun pembelajaran elearning
memberikan dampak positif dalam peningkatan kualitas dan proses
pembelajaran, namun masih terdapat kekurangan, khususnya dalam pendidikan
formal, seperti sekolah atau universitas.[2]
Blended learning tidak hanya memberikan pengalaman lebih kepada siswa, tapi juga ada
beberapa keuntungan lain yang dapat dipertimbangkan dalam penerapan model pembelajaran
blended learning ini, seperti
meningkatkan akses dan kemudahan siswa dalam mengakses materi pembelajaran,
meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mengurangi biaya pembelajaran (Stein & Graham, 2014:14).[3]
Dari aspek aksesibilitas, penerapan model blended learning memungkinkan guru / dosen untuk mendistribusikan materi
pembelajaran dan media pembelajaran secara online sehingga
dapat diakses oleh siswa dimanapun dan kapanpun dengan koneksi internet,
akses pun dapat dilakukan melalui laptop
ataupun melalui telfon pintar. Untuk kualitas pembelajaran, penerapan model
pembelajaran meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa melalui
berbagai media pembelajaran, baik berupa teks, audio, video, animasi, maupun
melalui forum diskusi online. Selain itu, dengan sistem online, biaya untuk proses belajar,
seperti penyediaan bahan ajar, distribusi bahan ajar, dan bahkan mungkin
penyediaan media pembelajaran.[4]
Arah pengembangan teknologi pendidikan saat
ini tidak hanya befokus pada pengembangan kognitif saja, tapi juga menekankan
pada pengembangan kemampuan afektif dan sikap. Oleh karena itu, perlu
dikembangkan model pembelajaran yang mampu mencakup aspek-aspek yang lebih
konferhensif. Keterbatasan waktu dan akses terhadap materi pembelajaran
tentunya menjadi penghang utama dalam peningkatan kualitas siswa. Dengan
menggunakan model blended learning
yang menggabungkan pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka, maka
efektifitas pembelajaran dapat dicapai dengan hasil luaran yang baik.[5]
2.
Rumusan Masalah
Permasalahan di sini penulis
akan membahas tentang:
a.
Konsep Blended Learning
b.
Karakteristik Blended Learning
c.
Penerapan Blended Learning
d.
Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran
e.
Kelebihan dan Kekurangan Blended
Learning
3.
Tujuan Materi
Makalah ini ditulis dengan tujuan dan harapan agar :
a.
Mengetahui
tentang Konsep Blended Learning
b.
Mengetahui
tentang Karakteristik Blended Learning
c.
Mengetahui
tentang Penerapan Blended Learning
d.
Mengetahui
tentang Prosedur Blended Learning dalam
Pembelajaran
e.
Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Konsep Blended
Learning
Blended learning terdiri dari kata blended (kombinasi/ campuran) dan learning (belajar). Istilah
lain yang sering digunakan adalah hybrid
course (hybrid = campuran/kombinasi, course = mata kuliah). Makna asli sekaligus yang paling umum
blended learning mengacu pada belajar
yang mengkombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face = f2f) dan pembelajaran
berbasis komputer (online dan offline).[6]
Thorne
(2003) menggambarkan blended learning sebagai
"It represents an opportunity to
integrate the innovative and technological advances offered by online learning
with the interaction and participation offered in the best of traditional
learning. Sedangkan Bersin (2004) mendefinisikan blended learning sebagai:
“the combination of different training “media” (technologies,
activities, and types of events) to create an optimum training program for a
specific audience. The term “blended” means that traditional instructor-led
training is being supplemented with other electronic formats. In the context of
this book, blended learning programs use many different forms of e-learning,
perhaps complemented with instructor-led training and other live formats”.
Istilah blended
learning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang
mencoba menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online.
Saat ini istilah blended menjadi populer, maka semakin banyak kombinasi yang dirujuk
sebagai blended learning. Dalam
metodologi penelitian, digunakan istilah mixing
untuk menunjukkan kombinasi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Adapula yang menyebut di dalam pembelajaran adalah pendekatan eklektif, yaitu
mengkombinasi berbagai pendekatan dalam pembelajaran. Namun, pengertian
pembelajaran berbasis blended learning adalah
pembelajaran yang mengkombinasi strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan
kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online
(internet dan mobile learning).
Pembelajaran
berbasis Blended learning berkembang
sekitar tahun 2000 dan sekarang banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris, Australia,
kalangan perguruan tinggi dan dunia pelatihan. Melalui blended learning semua sumber belajar yang dapat memfasilitasi
terjadinya belajar bagi orang yang belajar dikembangkan.
2.
Karakteristik Blended
Learning
Pembelajaran berbasis blended learning dimulai sejak ditemukan komputer, walaupun sebelum
itu juga sudah terjadi adanya kombinasi (blended). Terjadinya pembelajaran,
awalnya karena adanya tatap muka dan interaksi antara pengajar dan pelajar,
setelah ditemukan mesin cetak maka guru memanfaatkan media cetak. Pada saat
ditemukan media audio visual, sumber belajar dalam pembelajaran mengombinasi
antara pengajar, media cetak, dan audio visual. Namun blended learning muncul setelah berkembangnya teknologi informasi
sehingga sumber dapat diakses oleh pembelajar
secara offline maupun online. Saat
ini, pembelajaran berbasis blended
learning dilakukan dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka, teknologi
cetak, teknologi audio, teknologi audio visual, teknologi komputer, dan
teknologi m-learning (mobile learning).
Dalam blended
learning terdapat enam unsur yang harus ada, yaitu: [7]
a. Tatap Muka
Pembelajaran tatap muka sudah dilakukan
sebelum ditemukannya teknologi cetak, audio visual, dan komputer, pengajar
sebagai sumber belajar utama.
b. Belajar Mandiri
Dalam pembelajaran berbasis Blended Learning, akan banyak sumber
belajar yang harus diakses oleh peserta didik, karena sumber- sumber tersebut
tidak hanya terbatas pada sumber belajar yang dimiliki pengajar atau
perpustakaan lembaga pendidikannya saja, melainkan sumber-sumber belajar yang
ada di perpustakaan seluruh dunia.
c. Aplikasi
Aplikasi dalam pembelajaran berbasis blended
learning dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis masalah, pelajar akan
secara aktif mendefinisikan masalah, mencari berbagai alternatif pemecahan, dan
melacak konsep, prinsip, dan prosedur yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut.
d. Tutorial
Pada tutorial, peserta didik yang aktif untuk
menyampaikan masalah yang dihadapi, seorang pengajar akan berperan sebagai
tutor yang membimbing. Meskipun aplikasi teknologi dapat meningkatkan
keterlibatan pelajar dalam belajar, peran pengajar masih diperlukan sebagai tutor.
e. Kerjasama
Keterampilan kolaborasi harus menjadi bagian
penting dalam pembelajaran berbasis Blended
Learning. Hal ini tentu berbeda dengan pembelajaran tatap muka konvensional
yang semua peserta didik belajar di dalam kelas yang sama di bawah kontrol
pengajar. Sedangkan dalam pembelajaran berbasis blended, maka peserta didik
bekerja secara mandiri dan berkolaborasi.
f. Evaluasi
Evaluasi pembelajaran berbasis blended learning tentunya akan sangat
berbeda dibanding dengan evaluasi pembelajaran tatap muka. Evaluasi harus
didasarkan pada proses dan hasil yang dapat dilakukan melalui penilaian
evaluasi kinerja belajar pelajar berdasarkan portofolio. Demikian pula
penilaian perlu melibatkan bukan hanya otoritas pengajar, namun perlu ada
penilaian diri oleh pelajar, maupun penilai pelajar lain.
3.
Penerapan Blended Learning
Dalam paradigma pembelajaran daring, baik e-learning maupun blended learning, terdapat beberapa model kelas yang bisa digunakan. Berikut beberapa model
dan penerapan blended learning yang
sudah di terapkan oleh berbagai lembaga pendidikan.[8]
a. Model Station Lab
Pada model ini siswa dapat berpindah dari satu station ke
station lainnya pada
jadwal yang sudah ditentukan dimana
setidaknya dari beberapa station tersebut
ada satu station yang menggunakan pembelajaran daring
(online). Model ini biasanya cocok untuk digunakan pada sekolah dasar dimana
guru menjadi sentra pembelajaran.
b. Model Lab Rotation
Model ini hampir mirip dengan model Station lab, dimana siswa dapat
berpindah dari satu station ke station lain
pada jadwal yang sudah ditentukan.
Namun, pada model ini pembelajaran online dikhususkan menggunakan komputer lab yang sudah disediakan khusus untuk bidang
tertentu. Satu lab biasanya di kelola oleh dosen/guru atau profesional. Model
ini biasanya sangat cocok untuk
pendidikan berbasis keahlian, teknik, kedokteran, atau pendidikan vokasi.
c. Model Individual Rotation
Pada model ini siswa dapat
berpindah dari satu station ke station namun
pada jadwal yang telah
ditentukan oleh guru/dosen. Tidak
seperti model sebelumnya, pada model ini siswa tidak harus mengikuti semua station; siswa hanya mengikuti aktivitas yang telah dijadwalkan untuknya.
d. Model Flip Classroom
Model flip classroom mengganti posisi antara
kegiatan di kelas dengan kegiatan di rumah. Siswa dapat belajar secara online
di rumah melalui platform pembelajaran online untuk memahami topik pelajaran
kemudian pada pertemuan tatap muka dosen/guru memandu siswa untuk melakukakan
latihan, diskusi, presentasi, maupun mengerjakan projek terkentu. Model ini
memungkinkan dosen/guru untuk
menggunakan pertemuan tatap
muka untuk merancang kegiatan
yang dilakukan oleh siswa dan dapat mengurangi penyampaian materi secara
tradisional. Sehingga dengan model ini pembelajaran bisa berpusat pada
aktifitas siswa (Student center learning).
Model ini sangat cocok digunakan pada perguruan tinggi yang menerapkan model
pembeljaran SCL.
e. Model Flex
Model flex memungkinkan siswa untuk berpindah
dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya sesuai dengan kebutuhan mereka. Online
learning merupakan tulang punggung dari model flex ini. Dosen/guru memberikan
support dan instruksi, dimana siswa dapat mengerjakan aktifitas pembelajaran sesuai
dengan kurikulum namun dengan jadwal yang fleksibel. Model ini menuntut kesiapan
konten yang memadai karena banyak sktifitas siswa yang dilakukan secara mandiri. Ketersedian platform pembelajaran
online dengan konten yang banyak juga dapat membantu kesuksesan penerapan model
pembelajaran flex ini. Model ini memungkinkan siswa untuk belajar secara
mandiri dan menentukan apa yang bermanfaat
bagi mereka. Model ini cocok digunakan untuk pendidikan lanjutan, seperti S2
atau S3 dimana siswa dituntut untuk mandri dan menentukan apa yang mereka
butuhkan untuk menyelesaikan projek mereka.
f. Model A La Carte
Model ini memungkinkan siswa untuk belajar
dengan dosen/guru. Pembelajaran dapat dilakukan secara langsung dengan jadwal
tertentu atau dapat juga melalui rekaman video. Siswa dapat belajar melalui
komputer kampus, melalui gadget,
maupun melalui komputer
personal di rumah.
Model ini cocok untuk mata pelajaran yang bersifat umum (MKDU) atau juga mata kuliah pilihan.
4.
Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran
Profesor Steve Slemer menyarankan enam
tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal, Yaitu :[9]
a.
menetapkan macam dan materi bahan ajar. Pendidik
harus paham betul bahan ajar yang seperti apa yang relevan diterapkan pada
pendidikan jarak jauh (PJJ) yang sebagian dilakukan secara face to face
dan secara online atau web based learning.
b.
tetapkan rancangan dari blended learning
yang digunakan. Rancangan pembelajaran harus benar-benar dirancang dengan baik
dan serius, dan juga harus melibatkan ahli e-learning untuk membantu.
Hal ini bertujuan agar rancangan pembelajaran yang dibuat benar-benar relevan
dan memudahkan sistem pembelajaran face to face dan jarak jauh, bukan
malah mempersulit siswa ataupun tenaga kependidikan lainnya dalam
penyelenggarakan pendidikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat
rancangan pembelajaran blended learning adalah
1)
bagaimana bahan ajar tersebut disajikan,
2)
bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari
dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan,
3)
bagaimana siswa bias mengakses dua komponen
pembelajaran tersebu,
4)
faktor pendukung apa yang diperlukan, misalnya software
apa yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok atau individu saja.
c.
tetapkan format online learning. Apakah
bahan ajar tersedia dalam format PDF, video, juga perlu adanya pemberitahuan
hosting apa yang dipakai oleh guru, apakah Yahoo, Google, Facebook, atau
lainnya.
d.
melakukan uji terhadap rancangan yang dibuat.
Uji ini dilakukan agar mengetahui apakah sistem pembelajaran ini sudah berjalan
dengan baik atau belum. Mulai dari kefektivan dan keefesiensi sangat
diperhatikan, apakah justru mempersulit siswa dan guru atau bahkan benar-benar
mempermudah pembelajaran.
e.
menyelenggarakan blended learning dengan baik.
Sebelumnya sudah ada sosialisasi dari guru atau dosen mengenai system ini.
Mulai dari pengenalan tugas masing-masing komponen pendidikan, cara akses
terhadap bahan ajar, dan lain-lain. Guru atau dosen disini bertugas sebagai
petugas promosi, karena yang mengikuti penyelenggaraan blended learning bias
dari pihak sendiri dan bahkan dari pihak lain.
f.
menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi.
Contoh evaluasi yang dilakukan adalah dengan (a) Ease to navigate, (b)
Content / substance, (c) Layout / format / appearance, (d)
Interest, (e) Applicability, (f) Cost-effectiveness / value.
1)
Ease to navigate, seberapa mudah
siswa bisa mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran.
Kriterianya, makin mudah melakukan akses, makin baik.
2)
Content / substance, bagaimana kualitas
isi yang dipakai. Misalnya bagaimana petunjuk mempelajari bahan ajar itu
disiapkan, dan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan sebagainya.
Kriterianya: makin mendekati isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran adalah
makin baik.
3)
Layout / format / appearance, paket pembelajaran
(bahan, petunjuk, atau informasi lainnya) disajikan secara profesional.
Kriterianya: makin baik penyajian bahan ajar adalah makin baik.
4)
Interest, dalam artian sampai
seberapa besar paket pembelajaran yang disajikan mampu menimbulkan daya tarik
siswa untuk belajar. Kriterianya: siswa semakin tertarik belajar adalah makin
baik.
5)
Applicability, seberapa jauh paket
pembelajaran yang bisa dipraktekkan secara mudah. Kriterianya: makin mudah
adalah makin baik.
6)
Cost-effectiveness/value, seberapa murah
biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut.
Kriterianya: semakin murah semakin baik.
5. Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning
Kelebihan dan Kekurangan
Blended Learning sebagai berikut :[10]
a. Kelebihan Blended Learning
1)
Hemat waktu
2)
Hemat biaya
3)
Pembelajaran lebih efektif dan efisien
4)
Peserta mudah dalam mengakses materi pembelajaran
5)
Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri
6)
Memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara online
7)
Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan guru atau peserta didik lain di luar jam
tatap muka
8)
Pengajar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk mengajar
9)
Menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet
10) Memperluas jangkauan pembelajaran/pelatihan
11) Hasil yang optimal serta meningkatkan daya
tarik pembelajaran, dan lain sebaginya
b. Kekurangan Blended Learning
1) Sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana
tidak mendukung
2) Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta
3) Akses internet yang tidak merata di setiap
tempat, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Blended learning terdiri dari kata blended (kombinasi/ campuran) dan learning (belajar). Istilah
lain yang sering digunakan adalah hybrid
course (hybrid = campuran/kombinasi, course = mata kuliah). pembelajaran berbasis blended learning adalah pembelajaran
yang mengkombinasi strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan kegiatan
tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline),
dan komputer secara online (internet
dan mobile learning).
Karakteristik
pembelajaran berbasis blended
learning dilakukan dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka, teknologi
cetak, teknologi audio, teknologi audio visual, teknologi komputer, dan
teknologi m-learning (mobile learning).
beberapa model dan penerapan blended learning yang sudah
di terapkan oleh berbagai lembaga pendidikan, yaitu ; Model
Station Lab, Model Lab Rotation, Model Individual Rotation, Model Flip
Classroom, Model Flex, Model A La Cart.
Didalam Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran Profesor Steve Slemer
menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning
agar hasilnya optimal, Yaitu : menetapkan
macam dan materi bahan ajar, tetapkan rancangan dari blended learning
yang digunakan, tetapkan format online learning, melakukan uji terhadap
rancangan yang dibuat, menyelenggarakan blended learning dengan baik, menyiapkan
kriteria untuk melakukan evaluasi,
Kelebihan dan Kekurangan
Blended Learning.
Kelebihan
adalah: (1) Hemat
waktu, (2) Hemat biaya, (3) Pembelajaran lebih efektif dan efisien,
(4) Peserta mudah dalam mengakses materi pembelajaran, (5) Peserta didik
leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri, (6) Memanfaatkan
materi-materi yang tersedia secara online, (7) Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan guru atau peserta didik lain di luar jam
tatap muka, (8) Pengajar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk
mengajar, (9) Menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet, (10) Memperluas jangkauan pembelajaran / pelatihan, (11) Hasil yang optimal serta
meningkatkan daya tarik pembelajaran, dan lain
sebaginya. Adapun kekurangannya: (1) Sulit diterapkan apabila sarana dan
prasarana tidak mendukung, (2) Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta,
(3) Akses internet yang tidak merata di setiap tempat, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Handoko dan Waskito. 2018 . Blended Learning Teori dan Penerapannya
, Padang : Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi
dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas.
Wasis D. Dwiyogo, Pembelajaran
Berbasis Bleded learning , Diakses www.pembelajaranvisioner.com, pada tanggal 20 Maret 2020.
Rahman , Fathur dan H. Nuthfaturahman.2015.
Blended Learning, institut agama islam negeri (iain) antasari
prodi pendidikan agama islam pascasarjana banjarmasin.
Musyarofah
,Umi Wahidatun .2015. Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran, Diakses http://berbasistik.blogspot.com/2015/10/prosedur-blended-learning-dalam.html, pada
tanggal 20 Maret 2020.
[1] Handoko dan Waskito, Blended Learning Teori dan Penerapannya (Padang : Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas, 2018), hlm 2
[2] Ibid.,
hal 6
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid., hlm 7
[6] Wasis D. Dwiyogo,
Pembelajaran Berbasis Bleded learning
(www.pembelajaranvisioner.com, Diakses pada 20
Maret 2020, 2020)
[7] Fathur Rahman dan H. Nuthfaturahman,
Blended Learning, (institut agama islam negeri (iain) antasari prodi
pendidikan agama islam pascasarjana banjarmasin), hlm 4-6
[8] Handoko dan Waskito,
Op.Cit., hlm 7-11
[9] Umi Wahidatun Musyarofah, Prosedur Blended Learning dalam
Pembelajaran, ( http://berbasistik.blogspot.com/2015/10/prosedur-blended-learning-dalam.html, Diakses pada 20 Maret 2020, 2020)
[10] Fathur Rahman dan H. Nuthfaturahman,
Op.Cit,. hlm 5-6
No comments:
Post a Comment