Saturday, March 21, 2020

Blended Learning Dalam Pembelajaran

Blended Learning Dalam Pembelajaran

 

Junaidi

Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo

22 Maret 2020

Email: junaidi.elang@gmail.com

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.    Latar Belakang

Blended learning merupakan konsep yang menawarkan kombinasi pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka (tradisional). Model ini menjadi alternatif untuk pembelajaran daring yang banyak digunakan di negara-negara maju. Model ini dikembangkan untuk menjawab tantangan bahwa pembelajaran daring penuh (e-learning) ternyata tidak dapat diterapkan pada banyak instansi pendidikan. Hal ini dikarenakan ada aspek pembelajaran yang tidak bisa disampaikan hanya dengan pembelajaran online. Selain itu, model elearning menuntur siswa mandiri dan memiliki motivasi belajar yang tinggi.[1]

Blended learning memungkinkan guru / dosen untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif kepada mahasiswa. Mereka dapat menggabungkan model pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Blended learning dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran yang menggabungkan model pembelajaran tradisional (tatap muka) dengan model pembelajaran online (elearning). Model pembelajaran ini merupakan perkembangan dari model pembelajaran e-learning. Pada model pembelajaran e-learning proses pembelajaran hanya bergantung pada pembelajaran online. Walaupun pembelajaran elearning memberikan dampak positif dalam peningkatan kualitas dan proses pembelajaran, namun masih terdapat kekurangan, khususnya dalam pendidikan formal, seperti sekolah atau universitas.[2]

Blended learning tidak hanya memberikan pengalaman lebih kepada siswa, tapi juga ada beberapa keuntungan lain yang dapat dipertimbangkan dalam penerapan model pembelajaran blended learning ini, seperti meningkatkan akses dan kemudahan siswa dalam mengakses materi pembelajaran, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mengurangi biaya pembelajaran (Stein & Graham, 2014:14).[3]

Dari aspek aksesibilitas, penerapan model blended learning memungkinkan guru / dosen untuk mendistribusikan materi pembelajaran dan media pembelajaran secara online sehingga dapat diakses oleh siswa dimanapun dan kapanpun dengan koneksi internet, akses pun dapat dilakukan melalui laptop ataupun melalui telfon pintar. Untuk kualitas pembelajaran, penerapan model pembelajaran meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa melalui berbagai media pembelajaran, baik berupa teks, audio, video, animasi, maupun melalui forum diskusi online. Selain itu, dengan sistem online, biaya untuk proses belajar, seperti penyediaan bahan ajar, distribusi bahan ajar, dan bahkan mungkin penyediaan media pembelajaran.[4]

Arah pengembangan teknologi pendidikan saat ini tidak hanya befokus pada pengembangan kognitif saja, tapi juga menekankan pada pengembangan kemampuan afektif dan sikap. Oleh karena itu, perlu dikembangkan model pembelajaran yang mampu mencakup aspek-aspek yang lebih konferhensif. Keterbatasan waktu dan akses terhadap materi pembelajaran tentunya menjadi penghang utama dalam peningkatan kualitas siswa. Dengan menggunakan model blended learning yang menggabungkan pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka, maka efektifitas pembelajaran dapat dicapai dengan hasil luaran yang baik.[5]

2.    Rumusan Masalah

Permasalahan di sini penulis akan membahas tentang:

a.    Konsep Blended Learning

b.    Karakteristik Blended Learning

c.    Penerapan Blended Learning

d.   Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran

e.    Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning

 

 

3.    Tujuan Materi

Makalah ini ditulis dengan tujuan dan harapan agar :

a.    Mengetahui tentang Konsep Blended Learning

b.    Mengetahui tentang Karakteristik Blended Learning

c.    Mengetahui tentang Penerapan Blended Learning

d.   Mengetahui tentang Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran

e.    Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.    Konsep Blended Learning

Blended learning terdiri dari kata blended (kombinasi/ campuran) dan learning (belajar). Istilah lain yang sering digunakan adalah hybrid course (hybrid = campuran/kombinasi, course = mata kuliah). Makna asli sekaligus yang paling umum blended learning mengacu pada belajar yang mengkombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face = f2f) dan pembelajaran berbasis    komputer    (online    dan offline).[6]

Thorne    (2003)    menggambarkan  blended learning sebagai "It represents an opportunity to integrate the innovative and technological advances offered by online learning with the interaction and participation offered in the best of traditional learning. Sedangkan Bersin (2004) mendefinisikan blended learning sebagai:

 

“the combination of different training “media” (technologies, activities, and types of events) to create an optimum training program for a specific audience. The term “blended” means that traditional instructor-led training is being supplemented with other electronic formats. In the context of this book, blended learning programs use many different forms of e-learning, perhaps complemented with instructor-led training and other live formats”.

 

Istilah blended learning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online.

Saat ini istilah blended menjadi populer, maka semakin banyak kombinasi yang dirujuk sebagai blended learning. Dalam metodologi penelitian, digunakan istilah mixing untuk menunjukkan kombinasi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Adapula yang menyebut di dalam pembelajaran adalah pendekatan eklektif, yaitu mengkombinasi berbagai pendekatan dalam pembelajaran. Namun, pengertian pembelajaran berbasis blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasi strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online (internet dan mobile learning).

Pembelajaran berbasis Blended learning berkembang sekitar tahun 2000 dan sekarang banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris, Australia, kalangan perguruan tinggi dan dunia pelatihan. Melalui blended learning semua sumber belajar yang dapat memfasilitasi terjadinya belajar bagi orang yang belajar dikembangkan.

 

2.    Karakteristik Blended Learning

Pembelajaran berbasis blended learning dimulai sejak ditemukan komputer, walaupun sebelum itu juga sudah terjadi adanya kombinasi (blended). Terjadinya pembelajaran, awalnya karena adanya tatap muka dan interaksi antara pengajar dan pelajar, setelah ditemukan mesin cetak maka guru memanfaatkan media cetak. Pada saat ditemukan media audio visual, sumber belajar dalam pembelajaran mengombinasi antara pengajar, media cetak, dan audio visual. Namun blended learning muncul setelah berkembangnya teknologi informasi sehingga sumber dapat diakses oleh pembelajar  secara  offline  maupun  online.  Saat  ini,   pembelajaran   berbasis blended learning dilakukan dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka, teknologi cetak, teknologi audio, teknologi audio visual, teknologi komputer, dan teknologi m-learning (mobile learning).

Dalam blended learning terdapat enam unsur yang harus ada, yaitu: [7]

a.    Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka sudah dilakukan sebelum ditemukannya teknologi cetak, audio visual, dan komputer, pengajar sebagai sumber belajar utama.

b.   Belajar Mandiri

Dalam pembelajaran berbasis Blended Learning, akan banyak sumber belajar yang harus diakses oleh peserta didik, karena sumber- sumber tersebut tidak hanya terbatas pada sumber belajar yang dimiliki pengajar atau perpustakaan lembaga pendidikannya saja, melainkan sumber-sumber belajar yang ada di perpustakaan seluruh dunia.

c.    Aplikasi

Aplikasi dalam pembelajaran berbasis blended learning dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis masalah, pelajar akan secara aktif mendefinisikan masalah, mencari berbagai alternatif pemecahan, dan melacak konsep, prinsip, dan prosedur yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut.

d.   Tutorial

Pada tutorial, peserta didik yang aktif untuk menyampaikan masalah yang dihadapi, seorang pengajar akan berperan sebagai tutor yang membimbing. Meskipun aplikasi teknologi dapat meningkatkan keterlibatan pelajar dalam belajar, peran pengajar masih diperlukan sebagai tutor.

e.    Kerjasama

Keterampilan kolaborasi harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran berbasis Blended Learning. Hal ini tentu berbeda dengan pembelajaran tatap muka konvensional yang semua peserta didik belajar di dalam kelas yang sama di bawah kontrol pengajar. Sedangkan dalam pembelajaran berbasis blended, maka peserta didik bekerja secara mandiri dan berkolaborasi.

f.     Evaluasi

Evaluasi pembelajaran berbasis blended learning tentunya akan sangat berbeda dibanding dengan evaluasi pembelajaran tatap muka. Evaluasi harus didasarkan pada proses dan hasil yang dapat dilakukan melalui penilaian evaluasi kinerja belajar pelajar berdasarkan portofolio. Demikian pula penilaian perlu melibatkan bukan hanya otoritas pengajar, namun perlu ada penilaian diri oleh pelajar, maupun penilai pelajar lain.

 

3.    Penerapan Blended Learning

Dalam paradigma pembelajaran daring, baik e-learning maupun blended learning, terdapat beberapa model kelas yang bisa digunakan. Berikut beberapa model dan penerapan blended learning yang sudah di terapkan oleh berbagai lembaga pendidikan.[8]

a.    Model Station Lab

Pada model ini siswa dapat berpindah dari satu station ke station lainnya pada jadwal yang sudah ditentukan dimana setidaknya dari beberapa station tersebut ada satu station yang menggunakan pembelajaran daring (online). Model ini biasanya cocok untuk digunakan pada sekolah dasar dimana guru menjadi sentra pembelajaran.

b.    Model Lab Rotation

Model ini hampir mirip dengan model Station lab, dimana siswa dapat berpindah dari satu station ke station lain pada jadwal yang sudah ditentukan. Namun, pada model ini pembelajaran online dikhususkan menggunakan komputer lab yang sudah disediakan khusus untuk bidang tertentu. Satu lab biasanya di kelola oleh dosen/guru atau profesional. Model ini biasanya sangat cocok untuk pendidikan berbasis keahlian, teknik, kedokteran, atau pendidikan vokasi.

c.    Model Individual Rotation

Pada model ini siswa dapat berpindah dari satu station ke station namun pada jadwal yang telah ditentukan oleh guru/dosen. Tidak seperti model sebelumnya, pada model ini siswa tidak harus mengikuti semua station; siswa hanya mengikuti aktivitas yang telah dijadwalkan untuknya.

d.   Model Flip Classroom

Model flip classroom mengganti posisi antara kegiatan di kelas dengan kegiatan di rumah. Siswa dapat belajar secara online di rumah melalui platform pembelajaran online untuk memahami topik pelajaran kemudian pada pertemuan tatap muka dosen/guru memandu siswa untuk melakukakan latihan, diskusi, presentasi, maupun mengerjakan projek terkentu. Model ini memungkinkan dosen/guru untuk menggunakan pertemuan tatap muka untuk merancang kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan dapat mengurangi penyampaian materi secara tradisional. Sehingga dengan model ini pembelajaran bisa berpusat pada aktifitas siswa (Student center learning). Model ini sangat cocok digunakan pada perguruan tinggi yang menerapkan model pembeljaran SCL.

e.    Model Flex

Model flex memungkinkan siswa untuk berpindah dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya sesuai dengan kebutuhan mereka. Online learning merupakan tulang punggung dari model flex ini. Dosen/guru memberikan support dan instruksi, dimana siswa dapat mengerjakan aktifitas pembelajaran sesuai dengan kurikulum namun dengan jadwal yang fleksibel. Model ini menuntut kesiapan konten yang memadai karena banyak sktifitas siswa yang dilakukan secara mandiri. Ketersedian platform pembelajaran online dengan konten yang banyak juga dapat membantu kesuksesan penerapan model pembelajaran flex ini. Model ini memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri dan menentukan apa yang bermanfaat bagi mereka. Model ini cocok digunakan untuk pendidikan lanjutan, seperti S2 atau S3 dimana siswa dituntut untuk mandri dan menentukan apa yang  mereka butuhkan untuk menyelesaikan projek mereka.

f.     Model A La Carte

Model ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan dosen/guru. Pembelajaran dapat dilakukan secara langsung dengan jadwal tertentu atau dapat juga melalui rekaman video. Siswa dapat belajar melalui komputer kampus, melalui gadget, maupun melalui komputer personal di rumah. Model ini cocok untuk mata pelajaran yang bersifat umum (MKDU) atau juga mata kuliah pilihan.

 

4.    Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran

Profesor Steve Slemer menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal, Yaitu :[9]

a.    menetapkan macam dan materi bahan ajar. Pendidik harus paham betul bahan ajar yang seperti apa yang relevan diterapkan pada pendidikan jarak jauh (PJJ) yang sebagian dilakukan secara face to face dan secara online atau web based learning.

b.    tetapkan rancangan dari blended learning yang digunakan. Rancangan pembelajaran harus benar-benar dirancang dengan baik dan serius, dan juga harus melibatkan ahli e-learning untuk membantu. Hal ini bertujuan agar rancangan pembelajaran yang dibuat benar-benar relevan dan memudahkan sistem pembelajaran face to face dan jarak jauh, bukan malah mempersulit siswa ataupun tenaga kependidikan lainnya dalam penyelenggarakan pendidikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rancangan pembelajaran blended learning adalah

1)    bagaimana bahan ajar tersebut disajikan,

2)    bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan,

3)    bagaimana siswa bias mengakses dua komponen pembelajaran tersebu,

4)    faktor pendukung apa yang diperlukan, misalnya software apa yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok atau individu saja.

c.    tetapkan format online learning. Apakah bahan ajar tersedia dalam format PDF, video, juga perlu adanya pemberitahuan hosting apa yang dipakai oleh guru, apakah Yahoo, Google, Facebook, atau lainnya.

d.   melakukan uji terhadap rancangan yang dibuat. Uji ini dilakukan agar mengetahui apakah sistem pembelajaran ini sudah berjalan dengan baik atau belum. Mulai dari kefektivan dan keefesiensi sangat diperhatikan, apakah justru mempersulit siswa dan guru atau bahkan benar-benar mempermudah pembelajaran.

e.    menyelenggarakan blended learning dengan baik. Sebelumnya sudah ada sosialisasi dari guru atau dosen mengenai system ini. Mulai dari pengenalan tugas masing-masing komponen pendidikan, cara akses terhadap bahan ajar, dan lain-lain. Guru atau dosen disini bertugas sebagai petugas promosi, karena yang mengikuti penyelenggaraan blended learning bias dari pihak sendiri dan bahkan dari pihak lain.

f.     menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi. Contoh evaluasi yang dilakukan adalah dengan (a) Ease to navigate, (b) Content / substance, (c) Layout / format / appearance, (d) Interest, (e) Applicability, (f) Cost-effectiveness / value.

1)    Ease to navigate, seberapa mudah siswa bisa mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran. Kriterianya, makin mudah melakukan akses, makin baik.

2)    Content / substance, bagaimana kualitas isi yang dipakai. Misalnya bagaimana petunjuk mempelajari bahan ajar itu disiapkan, dan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan sebagainya. Kriterianya: makin mendekati isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran adalah makin baik.

3)    Layout / format / appearance, paket pembelajaran (bahan, petunjuk, atau informasi lainnya) disajikan secara profesional. Kriterianya: makin baik penyajian bahan ajar adalah makin baik.

4)    Interest, dalam artian sampai seberapa besar paket pembelajaran yang disajikan mampu menimbulkan daya tarik siswa untuk belajar. Kriterianya: siswa semakin tertarik belajar adalah makin baik.

5)    Applicability, seberapa jauh paket pembelajaran yang bisa dipraktekkan secara mudah. Kriterianya: makin mudah adalah makin baik.

6)    Cost-effectiveness/value, seberapa murah biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut. Kriterianya: semakin murah semakin baik.

 

5.    Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning

Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning sebagai berikut :[10]

a.    Kelebihan Blended Learning

1)        Hemat   waktu

2)        Hemat  biaya

3)        Pembelajaran lebih efektif dan efisien

4)        Peserta mudah dalam mengakses materi pembelajaran

5)        Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri

6)        Memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara online

7)        Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan guru atau peserta didik lain di luar jam tatap muka

8)        Pengajar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk mengajar

9)        Menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet

10)    Memperluas jangkauan pembelajaran/pelatihan

11)    Hasil yang optimal serta meningkatkan daya tarik pembelajaran, dan lain sebaginya

b.   Kekurangan Blended Learning

1)   Sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung

2)   Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta

3)   Akses internet yang tidak merata di setiap tempat, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

1.    KESIMPULAN

Blended learning terdiri dari kata blended (kombinasi/ campuran) dan learning (belajar). Istilah lain yang sering digunakan adalah hybrid course (hybrid = campuran/kombinasi, course = mata kuliah). pembelajaran berbasis blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasi strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online (internet dan mobile learning).

Karakteristik pembelajaran   berbasis blended learning dilakukan dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka, teknologi cetak, teknologi audio, teknologi audio visual, teknologi komputer, dan teknologi m-learning (mobile learning).

beberapa model dan penerapan blended learning yang sudah di terapkan oleh berbagai lembaga pendidikan, yaitu ; Model Station Lab, Model Lab Rotation, Model Individual Rotation, Model Flip Classroom, Model Flex, Model A La Cart.

Didalam  Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran Profesor Steve Slemer menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal, Yaitu : menetapkan macam dan materi bahan ajar, tetapkan rancangan dari blended learning yang digunakan, tetapkan format online learning, melakukan uji terhadap rancangan yang dibuat, menyelenggarakan blended learning dengan baik, menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi,

Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning. Kelebihan  adalah:   (1)  Hemat   waktu,   (2)  Hemat  biaya, (3) Pembelajaran lebih efektif dan efisien, (4) Peserta mudah dalam mengakses materi pembelajaran, (5) Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri, (6) Memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara online, (7) Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan guru atau peserta didik lain di luar jam tatap muka, (8) Pengajar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk mengajar, (9) Menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet, (10) Memperluas jangkauan pembelajaran / pelatihan, (11) Hasil yang optimal serta meningkatkan daya tarik pembelajaran, dan lain sebaginya. Adapun kekurangannya: (1) Sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung, (2) Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta, (3) Akses internet yang tidak merata di setiap tempat, dan sebagainya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Handoko dan Waskito. 2018 . Blended Learning Teori dan Penerapannya , Padang : Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas.

Wasis D. Dwiyogo, Pembelajaran Berbasis Bleded learning , Diakses www.pembelajaranvisioner.com, pada tanggal 20 Maret 2020.

Rahman , Fathur dan H. Nuthfaturahman.2015. Blended Learning, institut agama islam negeri (iain) antasari prodi pendidikan agama islam pascasarjana banjarmasin.

Musyarofah ,Umi Wahidatun .2015. Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran, Diakses  http://berbasistik.blogspot.com/2015/10/prosedur-blended-learning-dalam.html, pada tanggal  20 Maret 2020.

 



[1] Handoko dan Waskito, Blended Learning Teori dan Penerapannya (Padang : Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas, 2018), hlm 2

[2] Ibid., hal 6

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 7

[6] Wasis D. Dwiyogo, Pembelajaran Berbasis Bleded learning (www.pembelajaranvisioner.com, Diakses pada 20 Maret 2020, 2020)

[7] Fathur Rahman dan H. Nuthfaturahman, Blended Learning, (institut agama islam negeri (iain) antasari prodi pendidikan agama islam pascasarjana banjarmasin), hlm 4-6

[8] Handoko dan Waskito, Op.Cit., hlm 7-11

[9] Umi Wahidatun Musyarofah, Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran, ( http://berbasistik.blogspot.com/2015/10/prosedur-blended-learning-dalam.html, Diakses pada 20 Maret 2020, 2020)

 

[10] Fathur Rahman dan H. Nuthfaturahman, Op.Cit,. hlm 5-6

No comments:

Post a Comment